Keranjang Anda
Keranjang Anda masih kosong.
Total pesanan
$0 USD
Checkout

Ia Menjual Mobil Impiannya untuk Membangun Rumah bagi Satwa Liar

Seorang tukang kebun di Woodlands diam-diam menghidupkan kembali alam liar Singapura—satu spesies demi satu.

oleh Jia Lin
Terakhir diperbarui: 07 Mei 2026 - 7 menit baca
Ia Menjual Mobil Impiannya untuk Membangun Rumah bagi Satwa Liar

Singapura telah kehilangan lebih dari 99% hutan hujan aslinya. Sebagian besar yang dulu hidup di sini kini sudah hilang.

Maka terasa aneh bahwa di lereng belakang sebuah blok HDB di Woodlands (yang beberapa tahun lalu masih tandus!), sekarang ada 85 spesies kupu-kupu — lebih banyak dari seluruh Inggris. Elang berputar di langit. Capung jarum langka yang hampir lenyap dari tempat lain di Singapura kini hidup di kolamnya.

Tempat ini dibangun oleh seorang mantan profesor kimia bernama Ganesh. Ia menjual mobil impiannya untuk membiayai pembuatan kolam itu. Awalnya, ia tidak pernah berniat melakukan semua ini.

Anak Kampung yang Menjadi Profesor Kimia

Ganesh tumbuh besar di kampung, dalam keluarga dengan kebun luas dan gerbang yang selalu terbuka. Siapa pun bisa masuk untuk melihat tanaman-tanamannya. Dari situlah naluri berkebunnya berasal — bukan dari buku, melainkan dari tumbuh bersama semua itu sejak kecil.

Lalu ia menjadi profesor kimia di NUS. Ini penting, karena apa yang ia lakukan di kebun ini bukan sekadar soal perasaan. Ia memahami rantai makanan, sistem tanah, dan kimia di balik mengapa satu tanaman bisa memberi makan serangga sementara yang lain tidak. Kampung memberinya rasa cinta. Laboratorium memberinya ketelitian.

Lalu, beberapa tahun lalu, ibunya meninggal dunia.

Ganesh menjadi satu-satunya pencari nafkah di keluarganya. Ada orang-orang yang harus ia jaga. Nyaris tak ada ruang untuk berduka — duka biasanya hanya bisa dijalani ketika hidup yang lain bersedia menunggu, dan hidup jarang begitu.

Semuanya bermula dari satu bunga raya

Lalu Covid datang. Semuanya terhenti.

Di masa yang aneh dan serba tertunda itu, saat kebanyakan dari kami sibuk membuat roti sourdough dan merapikan lemari, Ganesh menanam satu bunga raya di lereng belakang blok tempat tinggalnya. Itu adalah bunga favorit ibunya, dan ia ingin punya cara untuk mengenangnya.

Bunga raya itu untuk kesehatan mentalnya, bukan untuk sesuatu yang lebih besar dari itu. Ia bukan sedang membangun taman.

Lalu warga mulai menyadarinya. Orang-orang yang lewat berhenti untuk bilang bahwa tempat itu terlihat indah, lalu tinggal untuk mengobrol. Ia senang melihat bagaimana semak bunga raya yang sederhana itu bisa mendekatkan komunitasnya, jadi ia terus menanam. Satu bunga raya menjadi beberapa. Beberapa menjadi satu lereng penuh.

Hampir saja semuanya dibongkar

Saat itulah NParks datang.

Tamannya tidak mendapat persetujuan resmi. Seorang petugas NParks datang dan memberi tahu Ganesh bahwa tanaman-tanaman itu mungkin harus disingkirkan. Ia memang tidak diizinkan melakukan apa yang sedang ia lakukan.

Ia tidak membantah. Katanya, kalau memang harus disingkirkan, biar ia sendiri yang melakukannya.

Tapi para petugas memperhatikan apa yang sedang terjadi di lereng itu. Kupu-kupu ada di mana-mana. Sebuah ekosistem kecil diam-diam mulai terbentuk di sebidang tanah yang beberapa bulan sebelumnya masih gundul. Mereka sadar ada sesuatu yang istimewa sedang terjadi.

Petugas itu lalu menyuruh Ganesh mengirim email ke NParks dan meresmikannya. Menurut Ganesh, hari itu yang paling meyakinkan justru alam itu sendiri, bukan dirinya. NParks bukan cuma mundur—mereka malah menjadi pendukung. Kebun itu pun disetujui. Proyek duka itu menjadi sesuatu yang nyata.

Bedanya Indah dan Berguna

Sebagian besar kebun komunitas di Singapura terlihat seperti yang orang bayangkan: deretan bok choy yang rapi, petak-petak kecil yang tertata, hal-hal yang ingin dimakan atau dilihat manusia. Semuanya ditanam untuk kita.

Kebun Ganesh ditanam untuk yang lainnya.

Inilah hal yang sering terlewat tentang berkebun untuk keanekaragaman hayati—apa yang indah bagi manusia sering kali tidak berguna bagi hewan. Bunga hias yang dipangkas rapi mungkin tidak memberi apa-apa kembali pada ekosistem. Sementara semak asli yang tampak seadanya dan tak akan dipasang siapa pun di Instagram bisa memberi makan puluhan spesies ulat, yang saat dewasa menjadi ngengat untuk memberi makan burung, yang anak-anaknya lalu memberi makan predator lebih tinggi dalam rantai makanan.

Ganesh menyebut ini penanaman yang memberi. Tanaman yang memberi. Daun yang memberi makan ulat. Bunga yang memberi makan lebah. Buah beri yang memberi makan burung. Itulah kenapa kebun ini terlihat lebih liar dibanding petak HDB pada umumnya: kebun ini tidak sedang berusaha terlihat seperti apa pun. Kebun ini sedang berusaha memberi makan sesuatu.

Ada satu detail di sini yang merangkum seluruh filosofinya. Saat seekor lebah lahir, ia menanamkan kesan pada jenis bunga pertama yang dilihatnya ketika keluar dari sarang. Sepanjang hidupnya, lebah itu hanya akan mengambil nektar dari spesies itu saja. Jadi Ganesh menanam secara berkelompok—hamparan besar bunga yang sama, bukan bedeng campuran—karena itu lebih mudah bagi lebah, meski bagi kita terlihat kurang cantik.

Itulah bentuk paling kecil dari kompromi itu. Hampir semua hal di kebun ini bekerja seperti itu.

Kupu-kupu yang seharusnya tidak ada di sini

Suatu pagi, dalam perjalanan ke kantor, Ganesh melihat seekor kupu-kupu yang tidak ia kenali. Besar. Mencolok. Ia sempat memotretnya lalu mengunggahnya ke grup Nature Society.

Balasannya cepat berdatangan. Itu adalah Clipper — spesies yang oleh banyak orang diyakini sudah hilang sepenuhnya dari Singapura.

Ia menceritakannya dengan nada biasa saja. Menurutnya, kupu-kupu itu mungkin lepas dari suatu tempat. Tapi yang paling membekas baginya bukan penemuan itu — melainkan apa yang terjadi setelahnya. Kupu-kupu itu tidak pergi. Ia menjalani seluruh masa dewasanya yang berlangsung dua minggu di kebunnya. Orang-orang datang mencarinya. Dan mereka menemukannya.

Baginya, itulah inti semuanya. Bukan karena penampakan langka itu. Tapi karena sesuatu yang langka memilih untuk tinggal.

Ia tidak merencanakan tempat ini menjadi kebun komunitas

Ganesh tidak merencanakan tempat ini menjadi kebun komunitas.

Awalnya, ini hanyalah kolaborasi antara keluarganya dan NParks. Namun sekitar enam bulan kemudian, orang-orang mulai bertanya apakah mereka bisa ikut membantu. Hari ini, ia memperkirakan sekitar 150–200 relawan pernah terlibat di sini.

Berbeda dari banyak kebun komunitas lain, di sini tidak ada petak masing-masing. Tidak ada “ini milikmu, itu milikku”.Seluruh ruang ini milik semua orang.

Menurut Ganesh, itu yang membuat kebun ini tetap tenang.

Membiarkan alam yang menentukan

Selain itu, kebun ini punya satu prinsip: jangan dipaksa.

Ganesh tidak memasukkan spesies baru. Apa pun yang muncul, biarlah muncul dengan sendirinya. Kalau ada tanaman yang kesulitan tumbuh, dia mungkin akan mencoba sekali lagi. Kalau tetap tidak tumbuh, dia berhenti. "Jangan paksa alam,", begitu cara dia mengatakannya.

Ini adalah filosofi yang bertolak belakang dengan cara Singapura biasanya memandang ruang hijau. Taman-taman di sini dirancang dengan indah — tertata rapi, penuh pertimbangan, fotogenik. Kebun Ganesh tidak berusaha terlihat seperti apa pun. Tempat ini hanya membiarkan segala sesuatu datang dan pergi, dengan caranya sendiri.

Dia menyebutnya guerrilla gardening, tapi lebih sebagai pemulihan daripada perlawanan. Dia tidak sedang mencoba melawan sistem. Dia ingin menunjukkan sesuatu padanya.

Ia menjual mobil impiannya untuk membangun kolam

Salah satu bagian penting taman ini hari ini adalah kolam kecil yang menarik capung dan capung jarum. Ganesh memutuskan membangunnya setelah sebuah momen yang terus membekas: saat musim kering, para pekerja datang meminta air untuk sebuah sarang dengan dua anak burung yang terus menangis.

Itu membuatnya sadar betapa mudahnya hewan kehilangan akses ke air ketika hutan dan aliran sungai menghilang.

Membangun kolam itu mahal. Untuk membayarnya, Ganesh menjual mobil impiannya. Katanya, hal itu masih membuatnya sedikit sedih — tapi ia sama sekali tidak menyesal. Baginya, hewan lebih penting.

Kenapa Ini Penting

Ada satu pertanyaan yang diam-diam banyak dari kita simpan: apakah yang sudah hilang memang hilang untuk selamanya?

Taman ini bilang tidak.

Taman ini menunjukkan bahwa satu orang, tanpa dana khusus dan tanpa dukungan lembaga, tetap bisa membangun kembali sesuatu yang selama ini kita kira hanya bisa disentuh oleh pemerintah dan organisasi konservasi. Pesannya jelas: kamu tidak perlu hutan. Kamu tidak perlu kebijakan. Yang kamu butuhkan hanya sedikit kesabaran, dan kesiapan untuk melepaskan hal-hal yang kamu inginkan.

Harapan Ganesh adalah agar taman ini menjadi contoh — bukti bahwa taman komunitas mana pun di Singapura juga bisa melakukan ini jika memang mau. Bahwa perubahan dari bawah itu mungkin. Bahwa keanekaragaman hayati bukan sesuatu yang harus ditunggu dipulihkan oleh pemerintah.

Ia mulai menanam karena sedang sedih. Ia terus menanam karena ada sesuatu yang perlahan kembali.

Kalau Ingin Melihatnya Sendiri

Kebanyakan orang di Singapura bahkan tidak tahu taman ini ada, dan itu juga jadi salah satu alasan kami menulis tentangnya.

Seek Sophie mengadakan tur jalan kaki privat di taman bersama Wilson. Ia akan menunjukkan capung jarum, menjelaskan aplikasi citizen science yang dipakai para relawan untuk mencatat temuan, dan mengajakmu menanam satu tanaman dari potongan kebun untuk dibawa pulang. Durasinya sekitar dua jam. Tidak perlu tingkat kebugaran tertentu — hanya jalan menanjak ringan yang santai.

Tips terbaik: Kalau bisa, pergilah pada pagi yang cerah. Kupu-kupu dan capung jarum paling aktif saat cuaca hangat dan kering. Hari berawan tetap menyenangkan, tapi lebih tenang.

Kamu tidak perlu obat nyamuk. Capung jarum yang urus. 🌱

Tentang penulis
Aku suka keluar di alam - hiking, melihat satwa liar, dan mengelus semua anjing dan kucing jalanan ❤️
6 Pilihan terbaik Jalan-Jalan Alam di Singapura
Jadi... siapa itu Sophie?
Kami sering ditanya soal ini! Sebenarnya, tidak ada siapa pun di tim kami yang bernama Sophie. Dalam bahasa Yunani, Sophie berarti kebijaksanaan. Kami ingin Seek Sophie menjadi tentang perjalanan yang membantumu mengenal diri sendiri dan dunia lebih dalam—perjalanan yang mengisi hati dan membuatmu merasa lebih terhubung.
Mari berteman!
Dapatkan cerita tentang tempat rahasia dan spot tersembunyi langsung di kotak masukmu.
Bahasa Inggris
USD
Bahasa Inggris
USD
© Seek Sophie 2026PrivasiSyarat
Lisensi Agen Perjalanan TA03435