Bagaimana Seorang Perempuan Menjaga Desa-Desa di Sabah Tetap Hidup
Mereka bilang tak ada yang tertarik melihat desa-desa di Sabah. Dia membuktikan mereka salah.

Sebagian besar pelancong datang ke Sabah untuk pulau-pulau, satwa liar, dan pegunungannya. Hanya sedikit yang berhenti di kampung-kampung yang mereka lewati, tempat keluarga menyadap karet, memasak dengan tungku kayu, dan menghabiskan sore di tepi sungai.
June percaya bahwa kehidupan desa sehari-hari layak dijadikan alasan untuk bepergian.
Saat pertama kali membawa ide ini ke beberapa pelaku pariwisata besar di Sabah, mereka bilang ini kuno. Mereka bilang pelancong tidak ingin melihat bagaimana warga desa benar-benar hidup.
Dia tidak percaya pada mereka. Meski begitu, dia tetap membangun Outreach Borneo.
Masa kecil yang dulu ia anggap biasa

June tumbuh besar di sebuah kota kecil di pedalaman Sabah, sebagai satu dari tujuh bersaudara. Keluarganya tidak punya banyak uang, tapi ia ingat punya banyak kebebasan.
Hari-harinya diisi dengan memanjat pohon, masuk ke hutan, dan membantu di sekitar kampung. Baginya, itu masa kecil yang biasa saja, di tempat yang mungkin tidak pernah terpikir untuk dikunjungi oleh kebanyakan pelancong.
Waktu kecil, ia ingin menjadi polisi wanita. Lalu koki. Tapi dengan keluarga besar dan uang yang terbatas, kedua jalan itu tidak memungkinkan. Pada akhirnya ia mengambil jurusan pariwisata, bukan karena itu memang cita-citanya sejak dulu, melainkan karena itulah yang sanggup ia biayai.
Keputusan yang praktis itu membawanya jauh lebih jauh dari yang ia bayangkan.
Setelah lulus, June meninggalkan Sabah dan menghabiskan bertahun-tahun bekerja sebagai instruktur kegiatan luar ruang di Dubai, Hong Kong, dan Vietnam. Ia memandu ekspedisi, mengajarkan keterampilan luar ruang, dan terlibat dalam proyek konservasi. Ia menjadi sangat piawai membantu orang merasakan tempat-tempat yang asing — bahkan saat ia sendiri makin jauh dari rumahnya.
Apa yang Vietnam tunjukkan padanya tentang rumah

Satu perjalanan mengubah cara ia memandang rumah.
Dalam salah satu perjalanan kerja, June menghabiskan waktu bersama sebuah komunitas minoritas di Vietnam.
Ia sempat mengira kunjungan itu akan terasa seperti sesuatu yang dibuat-buat, seperti pertunjukan budaya yang sering disiapkan untuk turis. Tapi yang ia temukan adalah orang-orang yang sekadar menjalani hidup mereka seperti biasa. Katanya:
Mereka tidak tampil demi para pengunjung. Memang begitulah diri mereka apa adanya.
Ia melihat betapa bangganya mereka pada budaya, tradisi, dan cara hidup sehari-hari mereka. Itu membuatnya memikirkan semua hal yang tumbuh di sekelilingnya di Sabah — dan betapa mudahnya selama ini ia menganggap semua itu biasa saja.
Ia telah berkeliling dunia sebelum akhirnya menyadari bahwa kehidupan tempat ia berasal juga layak dijaga dan dibagikan.
Lalu COVID datang, dan June pun kembali ke rumah.
Sebuah gagasan di bukit Kiulu

Suatu hari, June sedang duduk di sebuah bukit di atas Kiulu bersama temannya, Meijin, yang kemudian menjadi salah satu pendiri bersamanya.
Di bawah mereka ada sebuah kampung yang sudah dilihat June sepanjang hidupnya. Tempat itu begitu akrab sampai-sampai ia hampir berhenti benar-benar memperhatikannya.
Mereka berbicara tentang bagaimana desa-desa itu sedang berubah. Banyak anak muda pergi ke kota karena hanya sedikit cara untuk mencari nafkah di kampung halaman. Saat mereka pergi, bagian-bagian dari kehidupan desa pun perlahan ikut menghilang.
June menatap kampung itu dan berpikir:
Orang-orang tidak tahu keindahan ini ada. Apa yang akan terjadi kalau para pelancong mengetahuinya? Mungkinkah pariwisata menciptakan pekerjaan bagi keluarga setempat, sekaligus membantu anak muda tetap terhubung dengan asal mereka?
Begitulah Outreach Borneo bermula: dari dua sahabat yang duduk di atas bukit, memandangi sebuah desa yang selalu dilewati orang begitu saja.
Kehidupan desa, tanpa dibuat-buat

June dan Meijin mulai bekerja sama dengan keluarga-keluarga setempat untuk menciptakan pengalaman yang mengikuti ritme asli kehidupan desa Dusun.
Pelancong bisa memasak bersama para tante di desa, belajar menyadap karet dari seorang paman yang merawat 500 pohon, atau menghabiskan waktu di tepi sungai bersama anak-anak yang belum pernah bertemu pengunjung internasional sebelumnya.
Tidak ada aktor atau pertunjukan. Tidak ada yang dibuat ulang khusus untuk turis. Para tamu hanya diundang masuk ke dalam hal-hal yang memang sudah dijalani orang setiap hari.
Itu penting bagi June.
Ia tidak ingin desa-desa itu berubah menjadi sesuatu yang dipoles hingga tak lagi terasa aslinya. Ia ingin para pelancong melihat kehidupan desa seperti yang dulu ia harap seseorang tunjukkan kepadanya — sebelum ia harus meninggalkan Sabah untuk benar-benar mengerti betapa istimewanya tempat itu.
Tidak semua orang memahami gagasan ini. Saat pertama kali ia mengajukannya kepada perusahaan-perusahaan pariwisata besar, mereka bilang itu kuno, bahwa tidak ada yang ingin melihat kehidupan desa yang “nyata”.
June terus melangkah.
Kunjungan yang berantakan di saat terakhir
Di masa-masa awal, satu proyek yang sudah dikonfirmasi gagal di menit-menit terakhir.
June menghabiskan berhari-hari bersiap bersama warga desa. Keluarga-keluarga membersihkan rumah, menyiapkan makanan, dan membereskan semuanya. Bahkan anak-anak pun sangat antusias menyambut para tamu.
“Saya menghabiskan banyak waktu bersama warga desa, membantu mereka bersiap, membersihkan, memasak, dan menyiapkan semuanya,” kata June. “Bahkan anak-anak pun sangat bersemangat menyambut para tamu. Rasanya sangat menyayat hati melihat raut wajah mereka saat saya menyampaikan kabar itu.”
Akan sangat mudah untuk menyimpulkan bahwa para pelaku besar di industri pariwisata memang benar.
Sebaliknya, June mulai menelepon sekolah-sekolah dan menawarkan idenya kepada agen perjalanan. Ia menjawab pertanyaan sampai larut malam dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk membawa orang ke desa-desa itu.
Di masa-masa awal itu, setiap kunjungan sangat berarti. Masing-masing membantu membuktikan bahwa ide ini bisa berjalan.
Tanda-tanda kecil yang paling berarti

Perlahan, semakin banyak pelancong mulai datang.
Namun, bukan jumlah pemesanan yang membuat June merasa proyek ini berhasil. Yang membuatnya yakin adalah perubahan-perubahan kecil yang terjadi di dalam desa-desa itu.
Anak-anak mulai belajar bahasa Inggris agar bisa berbicara dengan tamu internasional. Anak muda yang sempat pindah ke kota pun mulai kembali saat low season untuk bekerja paruh waktu di desa mereka.
Bagi June, inilah bukti yang selama ini ia cari.
Kampung bukanlah tempat yang harus ditinggalkan anak muda. Dengan peluang yang tepat, kampung juga bisa menjadi tempat untuk kembali.
Dari satu desa menjadi tiga

Seiring kabar ini menyebar, komunitas lain mulai meminta June untuk bekerja sama dengan mereka.
Saat ini, Outreach Borneo mendukung keluarga-keluarga di tiga desa di Sabah. June dan Meijin juga berharap bisa berkembang ke Kota Belud, tempat mereka akan bekerja bersama komunitas Tobilung Bajau.
Perubahannya terlihat nyata.
“Dulu ada sebuah desa yang bahkan tidak mampu memasang atap,” kata June. “Sekarang mereka punya dua kanopi beton, enam toilet baru, dan area camping — semuanya dari menerima wisatawan.”
Cara uangnya dibagikan sengaja dibuat sederhana. Sebagian besar keuntungan langsung masuk ke komunitas, sementara June dan Meijin menyisakan secukupnya untuk terus menjalankan proyek ini.
Tujuannya bukan membuat desa-desa ini bergantung pada Outreach Borneo. Tujuannya adalah membantu mereka menjadi mandiri.
June ingin setiap komunitas pada akhirnya bisa mengelola pemesanannya sendiri dan menjalankan pengalaman mereka sendiri. Begitu satu desa sudah bisa berdiri sendiri, dia bisa mulai membantu desa berikutnya.
Bagian yang tidak dilihat wisatawan
June berbicara tentang desa-desa ini dengan kehangatan yang besar. Tapi dia juga jujur tentang apa saja yang dibutuhkan agar pekerjaan ini bisa terus berjalan.
“Sejujurnya, bagian tersulit itu bukan pekerjaannya,” katanya. “Tapi memikul beban karena semua orang bergantung pada saya — tim saya, komunitas-komunitas ini — dan harus tetap kuat untuk mereka semua.”
Wisata berbasis komunitas bisa tidak pasti secara finansial dan melelahkan secara emosional. Pemesanan yang dibatalkan bukan cuma perubahan jadwal. Itu bisa berarti mengecewakan satu kelompok keluarga yang sudah menghabiskan berhari-hari untuk bersiap.
“Bisa istirahat itu bonus,” kata June. “Tapi mereka punya begitu banyak harapan, dan saya tidak akan mengecewakan mereka.”
Mimpinya adalah membangun sesuatu yang bisa terus berjalan tanpa dirinya — sebuah jaringan desa yang punya keterampilan dan kepercayaan diri untuk menyambut wisatawan dengan cara mereka sendiri.
Habiskan sehari bersama June di Kiulu

Catatan: Ini bukan jalan-jalan sehari yang mencolok atau dirancang untuk Instagram, jadi kalau itu yang kamu cari, ini mungkin bukan pilihan yang tepat. Sebagai gantinya, kamu akan mendapatkan waktu — waktu yang benar-benar santai bersama orang-orang yang sudah menjalani hidup ini seumur hidup mereka, dan yang sungguh senang kamu datang.
Kamu akan memasak bersama para tante, mencoba menyadap karet bersama paman yang merawat 500 pohon, lalu menghabiskan sore yang santai di tepi sungai.
Hari ini sederhana, hangat, dan terasa sangat personal. Kamu tidak datang untuk melihat desa dari luar. Kamu diundang untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang yang tinggal di sana — dan yang benar-benar senang kamu datang.
Kunjunganmu juga membantu keluarga setempat mendapatkan penghasilan dari pengetahuan, tradisi, dan cara hidup yang memang sudah mereka miliki, tanpa meminta mereka mengubahnya menjadi sesuatu yang bukan diri mereka.


![Panduan Ringkas Merencanakan Pendakian Gunung Kinabalu [2026]](https://d18sx48tl6nre5.cloudfront.net/webp_xl_4f7a99703162889f64480dfe3c00a2a5.webp)



![Panduan Ringkas Merencanakan Pendakian Gunung Kinabalu [2026]](https://d18sx48tl6nre5.cloudfront.net/webp_md_cd85bdc9ac441cc7398c898710573c06.webp)



![Tempat Etis Melihat Orangutan di Asia Tenggara [2026]](https://d18sx48tl6nre5.cloudfront.net/webp_md_26a1e349373ffec8569b965090d516ed.webp)
![Tempat Etis Melihat Orangutan di Asia Tenggara [2026]](https://d18sx48tl6nre5.cloudfront.net/webp_xl_2e78af4a2c06449cbda3a3d258d4dac1.webp)




