Keranjang Anda
Keranjang Anda masih kosong.
Total pesanan
$0 USD
Checkout

Sejarawan kuliner dengan koleksi cetakan kueh terbesar di Singapura

Dan setiap cetakan punya ceritanya sendiri.

oleh Jacinta
Terakhir diperbarui: 10 Sep 2026 - 6 menit baca
Sejarawan kuliner dengan koleksi cetakan kueh terbesar di Singapura

Kebanyakan dari kita melihat ang ku kueh lalu bertanya isinya apa. Jarang sekali kita berhenti sejenak untuk memikirkan benda yang pertama kali memberinya bentuk kura-kura yang begitu akrab: cetakannya.

Padahal, setiap cetakan kayu lama ini punya sejarahnya yang menarik. Ukuran, bentuk, dan ukirannya bisa memberi tahu kita untuk perayaan apa sebuah kueh dibuat, komunitas mana yang membuatnya, bahkan bagaimana tradisi kuliner menyebar di seluruh Asia. Dulu, cetakan ini adalah peralatan dapur sehari-hari yang dipakai kakek-nenek dan buyut kita, tetapi sekarang kebanyakan dari kita nyaris tidak memperhatikannya.

Jasmine memperhatikannya.

Selama hampir 30 tahun, ia telah mengumpulkan lebih dari 300 cetakan kueh tradisional - dari yang kecil dengan ukiran rumit hingga cetakan ikan dan kura-kura berukuran besar, dan ia bisa menceritakan kisah-kisah paling jarang diketahui di balik masing-masing cetakan itu.

Satu cetakan aneh di Malang memulai obsesinya

Dalam sebagian besar hidup Jasmine, melestarikan warisan kuliner sama sekali bukan jalur kariernya. Ia berpraktik sebagai pengacara selama sekitar dua dekade, lalu bekerja di bidang desain bersama suaminya yang seorang seniman, dan akhirnya menjadi pemandu wisata berlisensi.

Obsesinya bermula tanpa diduga saat ia bepergian di Malang, Indonesia.

Saat berkunjung ke rumah seorang pedagang barang antik, perhatiannya tertuju pada sebuah cetakan kayu jati yang berat. Bentuknya terasa familiar, tapi detailnya berbeda dari cetakan modern yang pernah ia lihat.

“Jangan-jangan ini cetakan ang ku kueh?” Ia pun membelinya.

Satu temuan yang memancing rasa penasaran membawanya ke temuan berikutnya, lalu berikutnya lagi.

Sesampainya di rumah, ia memperhatikan ukirannya lebih saksama dan mulai bertanya-tanya siapa yang membuatnya, dulu dipakai untuk apa, dan apa makna pola-polanya.

Saat itu Jasmine juga telah menempuh studi pascasarjana tentang budaya, yang mengubah cara ia memandang makanan. Ia tak lagi hanya tertarik pada enak atau tidaknya sesuatu. Ia ingin memahami bahan-bahannya, peralatannya, sejarahnya, dan hubungan sosial yang ada di baliknya.

Sebuah peralatan dapur bisa bercerita jauh lebih banyak daripada sebuah resep. Maka satu cetakan disusul cetakan lain, lalu yang lain lagi.

Orang-orang menjual cetakan milik kakek-nenek mereka kepadanya

Kadang yang hilang bukan resepnya, melainkan orang yang masih mengingatnya.

Jasmine tidak sekadar membeli cetakan antik mana pun yang terlihat indah. Ia ingin tahu asal-usulnya.

Saat bepergian di Indonesia, orang-orang yang ia kenal kadang mendengar tentang cetakan lama di rumah seseorang lalu memberi tahu dia. Kadang mereka membelinya lebih dulu sebelum Jasmine tiba, karena begitu ada kolektor yang antusias, cetakan seharga 50.000 rupiah bisa dengan mudah berubah menjadi cetakan seharga 500.000 rupiah.

Jasmine bisa berbahasa Melayu, jadi dia bisa duduk bersama keluarga-keluarga itu dan bertanya dari mana cetakan itu berasal. Tapi kadang, jawabannya justru membuat pembelian itu terasa tidak nyaman.

Bisa jadi, cetakan itu dulu diukir oleh seorang kakek untuk nenek yang membuat kueh bagi keluarganya. Sekarang anak dan cucunya sudah tidak memakainya, dan juga tidak menginginkannya.

Jasmine selalu bertanya sekali lagi. “Yakin sudah tidak mau?”

Sering kali, memang tidak mau.

Kadang saya sedih saat membelinya. Tapi saya juga tahu, kalau saya tidak membelinya, benda itu hanya akan membusuk.

Itulah persoalan di balik koleksi luar biasa milik Jasmine. Kueh tradisional tidak akan hilang dalam semalam, tapi rantai pengetahuan sehari-hari di dalam keluarga bisa putus jauh lebih cepat dari yang dibayangkan. Seorang nenek tahu resepnya. Putrinya tidak membuatnya. Cucunya tidak pernah belajar.

Lalu suatu hari, semua orang sadar tidak ada lagi yang benar-benar ingat persis bagaimana dulu cara membuatnya.

Neneknya sendiri adalah alasan kenapa hal ini begitu berarti baginya

Jasmine melihat dirinya sendiri dalam keluarga-keluarga yang menjual barang-barang dapur lama mereka kepadanya. Saat masih muda, dia juga tidak terlalu tertarik mempelajari semua yang diketahui neneknya. Waktu itu dia sibuk belajar dan berlatih hukum.

Baru belakangan dia mengerti apa yang telah hilang.

Nenek dari pihak ibu saya mencari nafkah dengan berjualan kueh bang kek. Dan saya tidak pernah mendapatkan resepnya.

Itulah sebabnya, bagi Jasmine, warisan bukan soal memaksa semuanya tetap persis seperti dulu—karena saat orang-orang pergi dan ingatan memudar, itu sering kali memang tidak mungkin. Kisah warisan sebenarnya adalah kisah tentang penyesuaian.

Tradisi bisa berubah tanpa melupakan asalnya.

Ia menunjuk kueh bahulu—yang sebenarnya diadaptasi dari madeleine Eropa, tetapi para pembuat kue lokal mengubah resepnya karena mentega tidak mudah didapat di sini. Ia antusias dengan beragam warna, bentuk, dan nama yang digunakan oleh komunitas Melayu, Tionghoa, dan Peranakan, juga dengan apa yang perbedaan-perbedaan itu ceritakan tentang migrasi dan pertukaran budaya.

Bagi Jasmine, melestarikan makanan bukan berarti membekukannya dalam waktu. Tapi bukan berarti warisan bisa diabaikan begitu saja. Kita perlu tahu cara tradisionalnya dulu supaya bisa menyesuaikan dari situ. Kita harus tahu dulu apa yang sedang diubah.

Setiap cetakan pada dasarnya adalah buku sejarah

Begitu Jasmine mulai bercerita tentang cetakan-cetakan ini, bahkan sesuatu yang seakrab ang ku kueh pun jadi terasa tidak lagi biasa.

Bentuk kura-kuranya punya makna simbolis. Tiap komunitas memakai pola yang berbeda. Cetakan yang dibuat untuk sesajen bisa berukuran sangat besar, sementara beberapa versi modern kini dibuat cukup kecil untuk pesta dan anak-anak.

Salah satu yang paling disukai Jasmine adalah cetakan ikan besar ini, dibuat untuk sesuatu yang jauh lebih dari sekadar camilan sehari-hari.

Potongan favoritnya sering berada di titik-titik ekstrem itu: ukurannya luar biasa besar, luar biasa kecil, atau sangat rumit. Ada satu cetakan ikan raksasa dengan sisik yang diukir indah dan ekor yang melengkung anggun. Jasmine yakin cetakan itu kemungkinan dipakai dengan adonan pastry seperti mooncake untuk membuat kue persembahan.

Ada cetakan lain dengan ukiran yang merujuk pada kepercayaan agama atau komunitas tertentu.

Setelah cukup lama bersama Jasmine, cetakannya sendiri hampir jadi bagian yang paling tidak menarik. Benda itu adalah bukti. Bukti tentang apa yang dimakan orang, apa yang mereka rayakan, siapa yang mereka sembah, dari mana bahan-bahannya berasal, dan bagaimana budaya yang berbeda terus saling meminjam satu sama lain.

Ia ingin kita mengobrak-abrik dapur nenek kita

Menurut Jasmine, kita cenderung kurang menghargai benda-benda ini saat masih tersimpan di rumah.

Jasmine berharap kita mulai melihat barang-barang lama ini dengan cara yang sedikit berbeda.

Cetakan kayu lama bisa terlihat seperti barang yang menumpuk sampai tak ada lagi yang ingat siapa yang memakainya. Resep tulisan tangan bisa terasa tidak penting sampai orang yang tahu arti “sedikit saja” itu sudah tidak ada.

Kalau saya bisa menanamkan rasa bangga atas apa yang kita punya, walaupun hanya dari dapur nenek kita, dapur ibu kita, bahkan dapur nenek teman kita, maka kita akan punya rasa bangga itu. Dan ketika kita punya rasa bangga itu, kita juga punya rasa memiliki.

Ia bukan bilang semua orang perlu punya 300 cetakan. Pakai yang plastik pun tidak apa-apa kalau itu yang ada. Ganti isiannya. Sesuaikan resepnya. Buat kuehnya. Yang penting, pengetahuan ini tetap hidup supaya orang berikutnya masih bisa meneruskannya dengan caranya sendiri.

Minum teh sore bersama Jasmine

Ia akan menunjukkan cetakan-cetakannya, bercerita tentang asal-usulnya, dan menghidupkannya kembali.

__placeholder_51__ terasa sedikit sepert terasa seperti diundang ke rumah tante paling antusias di dunia—kalau tante itu kebetulan punya ratusan cetakan antik dan bisa menjelaskan sejarah migrasi di balik camilan soremu.

Ia akan menunjukkan beberapa bagian dari koleksinya dan bercerita dari mana asalnya, apa arti ukirannya, dan bagaimana komunitas yang berbeda mengadaptasi kueh dari generasi ke generasi. Tergantung pengalamannya, kamu juga akan membuat sesuatu sendiri lalu duduk minum teh dan makan kueh bersama Jasmine.

Bagian itulah yang paling kami suka. Ini bukan warisan yang hanya dipajang di balik kaca. Kamu menyentuh cetakannya, mendengar cerita keluarganya, menikmati makanannya, dan membuat sesuatu dengan tanganmu sendiri. Dan begitulah, menurut Jasmine, warisan tetap hidup.

Tentang penulis
Hai! Saya co-founder Seek Sophie. Saya suka tempat-tempat berdebu yang punya karakter. Saat tidak sedang bepergian, saya mengajari kucing-kucing saya berbagai trik.

Pertanyaan seputar Singapura

Apa pengalaman terbaik yang tidak terlalu wisatawi?

Untuk melewati keramaian dan merasakan Singapura secara berbeda, coba ini! 

Daripada Marina Bay Sands SkyPark → Rooftop Rahasia di Mall Funan (Gratis, pemandangan langit yang menakjubkan tanpa harga mahal)

Kebanyakan orang ke Marina Bay Sands untuk pemandangan 360 derajat, tapi tahukah kamu, kamu bisa mendapatkan pemandangan langit yang keren secara gratis? Taman atap tersembunyi di Mall Funan menawarkan perspektif luar biasa ke Marina Bay Sands, Mahkamah Agung, dan Singapore Flyer—tanpa kerumunan. Naik lift di Lobby B, dan kamu akan menemukan tempat tenang yang cocok untuk foto, istirahat sejenak, atau piknik.

Daripada Sentosa yang wisataw → Jelajahi Hutan Hujan Tersembunyi di Sentosa (Temukan satwa langka dengan pemandu naturalis)

Sentosa memang indah tapi buatan. Kalau mau lihat yang asli, masuklah ke hutan hujan tersembunyi di Sentosa. Kebanyakan pengunjung nggak sadar bahwa Sentosa punya bagian hutan alami yang belum tersentuh, rumah bagi satwa langka seperti kukang terbang (colugo), badak tanah, dan burung eksotis. Tur berpemandu akan membawa kamu ke dalam hutan, di mana kamu bisa merasakan sisi liar Singapura yang biasanya orang lewatkan.

Daripada Chinatown → Jelajahi Joo Chiat & Katong (Rumah toko berwarna-warni, warisan Peranakan yang kaya, dan makanan lokal yang enak)

Chinatown selalu ramai wisatawan, tapi kalau mau tahu lebih dalam tentang warisan Singapura, Joo Chiat dan Katong tempatnya. Lingkungan ini penuh rumah toko Peranakan yang terawat, toko butik unik, dan beberapa makanan lokal terbaik di Singapura. Cicipi kue Nonya tradisional, mampir ke kedai kopi yang sudah berusia ratusan tahun, atau jalan-jalan di jalan berwarna-warni sambil menikmati suasana lama dan baru yang berpadu.

Daripada naik kapal pesiar sungai → Kayak di hutan mangrove (Cara tenang dan menyatu untuk jelajahi perairan Singapura)

Naik kapal pesiar di sungai Singapura memang menarik, tapi kalau mau pengalaman yang lebih dekat dan pribadi, coba kayak di mangrove. Dayung di jalur air tersembunyi di Pulau Ubin atau Khatib Bongsu, di mana kamu dikelilingi hutan mangrove yang lebat, bisa lihat berang-berang, bahkan mungkin elang terbang di atas kepala. Damai, petualangan, dan tampilkan sisi berbeda Singapura—tanpa suara mesin kapal.

Daripada bar di Clarke Quay → Jelajahi bar speakeasy (Temukan bar koktail tersembunyi dengan pintu rahasia)

Clarke Quay seru tapi biasa aja. Kalau mau suasana malam yang lebih unik, cari bar speakeasy tersembunyi di Singapura. Bar-bar ini tersembunyi di balik pintu tak bertanda, disamarkan sebagai toko jahit, atau bahkan di dalam hall jamu tua. Apakah itu bar koktail bergaya Shanghai tahun 1920-an atau lounge jazz di balik pintu kulkas, menemukan tempat rahasia ini seru banget dan bikin pengalaman malam makin berkesan.

Daripada ke Kebun Binatang Singapura → Sungei Buloh Wetland Reserve (Lihat satwa liar di habitat aslinya, bukan di kandang)

Kebun binatang Singapura terkenal di dunia, tapi kalau mau lihat satwa di alam liar, pergi ke Sungei Buloh Wetland Reserve. Hutan mangrove ini luas dan rumah bagi buaya, biawak raksasa, berang-berang, dan burung migrasi. Jalan di atas jalur papan kayu dan perhatikan ada buaya muara besar yang berjemur di lumpur—ini safari satwa liar versi Singapura, dan tempat favorit kami!

Apa yang layak dilakukan di Singapura jika saya sudah pernah ke sana sebelumnya?

Jika Anda pernah berkunjung ke Singapura dan merasa sudah mengunjungi semua tempat utama, masih banyak yang bisa ditemukan. Di luar cakrawala futuristik dan atraksi terkenal, Singapura punya banyak hal menarik—didukung oleh warga lokal yang penuh semangat menjaga alam, satwa, dan tradisi yang mulai memudar. 

Entah belajar dari pengrajin yang mempertahankan tradisi lama, menjelajah ke wilayah alam liar yang belum tersentuh, atau menyelami sejarah yang terlupakan, pengalaman-pengalaman ini akan menunjukkan sisi Singapura yang jarang dilihat orang!


Kunjungi Kebun Lebah di Atap dan Rasakan Madu Segar – Sebuah oasis hijau tersembunyi di kota

Kebanyakan orang tidak mengira Singapura sebagai tempat peternakan lebah, tapi di atas kota, sebuah suaka lebah di atap menjadi rumah bagi lebah yang diselamatkan dan seharusnya akan dibasmi. Pelajari tentang peran penting lebah dalam ekosistem kita, cicipi berbagai jenis madu mentah, dan lihat bagaimana pertanian kota berkembang di tempat yang tak terduga. Pengalaman yang damai dan membuka mata ini berlangsung di tengah kota.

Jelajahi Pulau Ubin – Pulau Hutan Belantara Terakhir di Singapura

Pulau Ubin terasa seperti masuk ke dunia lain. Tidak ada gedung pencakar langit, tidak ada jalan raya—hanya jalan tanah, hutan mangrove, dan suasana desa yang santai dan jarang ditemui di Singapura modern. Sewa sepeda dan kelilingi rumah kayu kampung, naik kayak melalui terowongan pohon mangrove, dan kunjungi rawa-rawa Chek Jawa, tempat Anda bisa melihat kepiting tapal kuda dan satwa laut langka lainnya. Kalau Anda pikir sudah tahu Singapura, Pulau Ubin akan buat Anda berpikir ulang.

Naik ke bunker Perang Dunia II yang tersembunyi – Babak sejarah yang terlupakan

Sejarah Perang Dunia II di Singapura sudah banyak didokumentasikan, tapi beberapa peninggalan paling menarik tersembunyi di dalam hutan. Di seluruh pulau, tersebar bunker bawah tanah yang ditinggalkan dan pernah menyimpan amunisi serta tempat tinggal tentara. Berbeda dari Fort Canning, bunker ini benar-benar tersembunyi dari pandangan, membutuhkan pendakian di jalur tidak resmi, merunduk melalui terowongan sempit, dan merayap ke ruang bawah tanah. Kalau Anda cari petualangan bersejarah yang asli, ini adalah salah satu tempat paling menarik untuk dijelajahi.

Wisata dengan teka-teki – Jelajahi Singapura seperti Detektif

Kalau Anda pernah berjalan di Chinatown, Little India, atau Marina Bay Sands, mungkin merasa sudah melihat semuanya. Tapi daripada sekadar jalan, coba jelajahi lewat permainan teka-teki interaktif. Permainan ini menantang Anda memecahkan misteri sekaligus menemukan detail tersembunyi tentang sejarah dan budaya Singapura. Entah memecahkan kode di kuil, mengikuti jejak petunjuk di gang-gang kecil, atau menemukan legenda yang terlupakan, ini mengubah wisata menjadi petualangan.

Belajar seni tradisional dari pembuat kue lama

Saat Singapura semakin modern, banyak kerajinan tradisional mulai hilang. Salah satunya adalah seni membuat kue klasik dengan tangan, memakai teknik turun-temurun. Di workshop ini, Anda tidak hanya belajar membuat kue tradisional, tapi juga mendengar cerita tentang bagaimana camilan ini pernah jadi bagian penting dari pernikahan, festival, dan kehidupan sehari-hari dulu. Kesempatan langka untuk merasakan bagian dari masa lalu Singapura sebelum hilang sepenuhnya.

Bersepeda melalui daerah yang jarang diketahui

Kebanyakan wisatawan menjelajah Singapura dengan MRT atau taksi, tapi salah satu cara terbaik melihat kota adalah dengan bersepeda. Ikut tur sepeda melalui daerah yang kurang dikenal seperti Little India, Kampong Glam, dan Jalan Besar, di mana Anda akan menemukan seni jalanan yang penuh warna, gang-gang tersembunyi, dan tempat makan keluarga yang sudah ada bertahun-tahun. Panduan akan menunjukkan detail yang jarang Anda perhatikan sendiri, dari bunker bom Perang Dunia II yang rahasia sampai cerita di balik shophouse tua.

Meski sudah pernah ke Singapura sebelumnya, pengalaman ini akan memberi Anda penghargaan baru terhadap sisi tersembunyi kota ini.

Ada tempat tersembunyi di luar jalur biasa untuk dieksplorasi?

Ya! Meski Singapura terkenal sebagai kota super modern, masih ada sudut-sudut tersembunyi yang penuh sejarah, alam, dan tempat yang terlupa yang kebanyakan penduduk lokal pun tak tahu.

Kampung Terakhir di Singapura – Jendela ke Masa Lalu

  • Banyak orang pikir Singapura cuma bangunan tinggi dan pencakar langit, tapi di sudut kecil pulau, Kampong Lorong Buangkok masih ada. Ini kampung tradisional terakhir di Singapura, di mana kamu bisa lihat rumah kayu, ayam berkeliaran, dan sekilas kehidupan sebelum kota ini jadi pusat keuangan dunia.
  • Berbeda dengan museum warisan, ini adalah bagian sejarah yang masih hidup — tapi mungkin nggak akan lama lagi karena pemerintah berencana mengembangkan tanah ini.

Bunker Perang Dunia II Marsiling – Terowong Rahasia Bawah Tanah

  • Jauh di dalam hutan dekat perbatasan Malaysia, terletak bunker zaman Perang Dunia II yang ditinggalkan oleh Inggris. Terowong besar ini menyimpan amunisi selama perang, tapi kini terlupakan dan tertutup hutan.
  • Menjelajahi bunker ini seperti masuk ke petualangan Indiana Jones nyata, lengkap dengan lorong rahasia dan dinding berlumut gelap.

Kelongs yang Hilang – Perkampungan Nelayan Terapung yang Dilupakan Waktu

  • Kelongs adalah perkampungan nelayan tradisional yang dibangun di atas air, dulu populer di Asia Tenggara.
  • Dulu penting buat perekonomian Singapura, cuma tinggal segelintir sekarang karena kota ini makin modern. Kunjungi kelong dan lihat bagaimana Singapura lama dan baru hidup berdampingan, dengan kolam ikan tradisional terapung sampai ke fasilitas akuakultur modern.

Benteng Tersembunyi di Sentosa – Situs Militer yang Lupa

  • Sentosa terkenal dengan resort-resortnya, tapi di hutan terpencil ada Fort Serapong, benteng Inggris lama dari tahun 1880-an. Seperti Angkor Wat-nya Singapura!
  • Beda sama Fort Siloso (yang terawat rapi untuk wisatawan), yang ini sudah ditumbuhi semak dan pohon, memberi suasana seram dan post-apokaliptik. Kamu butuh pemandu untuk menemukannya — bagian dari petualangan!

Saya Bisa Mendaki di Mana di Singapura?

Meski Singapura adalah negara kecil, tempat ini punya jalur hiking yang hijau dan beragam, dari hutan tersembunyi sampai jalur kereta api tua.

1. Koridor Kereta Api & Hutan Clementi – Pendakian Melalui Rel Kereta Api Terlantar di Singapura

🚶 Kenapa ini istimewa: Jalur ini mengikuti rel kereta api yang dulu menghubungkan Singapura ke Malaysia. Sejak rel dihapuskan tahun 2011, alam mulai menguasai, menciptakan kawasan liar kota yang langka.

  • Mulai dari Stasiun Kereta Bukit Timah, di mana kamu akan lihat platform stasiun lama dan jembatan rel kereta.
  • Jalan melalui bagian Hutan Clementi, hutan berkabut dan lebat yang tidak seperti Singapura modern.
  • Selesai di terowongan kereta api hijau yang terkenal, salah satu tempat paling fotogenik di Singapura.

2. Waduk MacRitchie & Jembatan Pohon – Pendakian Hutan Paling Terkenal di Singapura

🌳 Kenapa ini istimewa: Ini adalah cagar alam tertua di Singapura, ada jembatan gantung sepanjang 250m yang membawa kamu di atas kanopi hutan hujan.

  • Temui monyet ekor panjang, biawak, dan lemur terbang sepanjang perjalanan.
  • Jalan di sepanjang papan jalan yang tenang di waduk, di mana kamu mungkin lihat penyu dan ikan.
  • Semua jalur sekitar 10 km tapi bisa dipersingkat dengan jalur alternatif.

3. Cagar Alam Bukit Timah – Puncak Tertinggi di Singapura

🏔 Kenapa ini istimewa: Bukit Timah adalah titik tertinggi alami di Singapura (163m), dikelilingi oleh salah satu hutan hujan paling beragam di dunia.

  • Jalur ini curam dan menantang, cocok untuk olahraga yang berat.
  • Kamu akan lewat pohon dipterokarp besar dan berusia ratusan tahun.
  • Temui satwa langka seperti trenggiling, colugo (lemur terbang), dan ular koral biru Malaya.

4. Cagar Hutan Payau Sungai Buloh – Bagian Paling Liar di Singapura

🦅 Kenapa ini istimewa: Hutan mangrove dan cagar basah ini adalah tempat favorit pengamat burung dan rumah bagi buaya liar.

  • Jalan di atas papan kayu melalui mangrove, di mana kamu bisa lihat biawak monitor besar dan berang-berang.
  • Kalau beruntung, kamu bisa lihat buaya muara liar yang beristirahat di lumpur.
  • Lebih baik dikunjungi saat matahari terbit atau terbenam saat satwa liar aktif banget.

Apa saja hal paling unik yang bisa dilakukan di Singapura?

Kalau kamu pikir Singapura cuma gedung pencakar langit dan pusat belanja, pengalaman ini pasti bikin kamu berubah pikiran.

1. Kunjungi Kampong Terakhir di Singapura – Harta Karun Waktu dari Singapura Lama

Daripada cuma pergi ke Museum Nasional buat belajar sejarah Singapura, lebih seru lagi kalau benar-benar masuk ke dalamnya!

Singapura dulunya desa nelayan kecil, sekarang jadi pusat keuangan dunia dalam satu generasi. Tapi Kampong Lorong Buangkok adalah desa tradisional terakhir yang masih ada, di mana keluarga tinggal di rumah kayu dengan atap timah. Jalan-jalan di kampong kayak menembus ke masa lalu—anak-anak bermain di lapang terbuka, ayam berkeliaran bebas, tetangga ngobrol di luar rumah. Ini gambaran Singapura yang dulu pernah ada. Karena milik pribadi, terbaik kunjungi dengan pemandu yang bisa memperkenalkanmu ke penduduknya.

2. Jelajahi Kelongs yang Menghilang – Desa Nelayan Terapung dari Masa Lalu

Daripada cuma makan seafood di restoran mewah, kunjungi kelong tradisional dan lihat bagaimana mereka menangkap ikan!

Sebelum adanya peternakan ikan modern, nelayan Singapura tinggal di kelong—rumah kayu tradisional yang dibangun di atas tiang di atas laut. Desa terapung ini mulai hilang, tapi kamu masih bisa kunjungi satu lewat perjalanan naik kapal. Lihat bagaimana nelayan menggunakan teknik kuno untuk menangkap ikan, dan bandingkan dengan peternakan ikan modern di Singapura. Ini kesempatan langka untuk lihat masa lalu dan masa depan Singapura berdampingan.

3. Jalan-Jalan Bareng Mantan Penjahat – Melihat Masa Lalu Singapura yang Lebih Gelap

Daripada cuma dengar versi resmi sejarah, rasakan cerita nyata yang penuh warna.

Singapura dikenal aman dan tertib, tapi dulu ada geng yang mengendalikan seluruh lingkungan. Dalam tur ini, mantan anggota geng berbagi cerita nyata tentang kelompok rahasia, kejahatan, dan bagaimana hidupnya berubah. Cerita ini keras, membuka mata, dan bikin kamu paham lebih dalam tentang bagaimana Singapura jadi seperti sekarang.

4. Haw Par Villa – Taman Tema Unik dan Seram dari Tahun 1930-an

Daripada Universal Studios, kunjungi taman tema yang berisi kepercayaan kuno dari China.! 

Haw Par Villa adalah situs budaya yang unik—taman tema outdoor yang aneh dan menampilkan nilai-nilai tradisional China dengan cara yang menakutkan dan grafis. Diorama “10 Pengadilan Neraka” menunjukkan apa yang terjadi kepada orang yang berbuat jahat (spoiler: nggak cantik). Ini cara yang aneh, seru, dan nggak terduga buat belajar tentang cerita rakyat China secara langsung.

5. Temukan Sisi Supernatural Singapura lewat Tur Hantu

Daripada cuma jalan-jalan di distrik bersejarah, dengar cerita seram yang tersembunyi di baliknya!

Singapura punya kepercayaan mendalam tentang makhluk halus, dan tur hantu ini mengajakmu ke beberapa tempat paling angker di kota. Kamu akan dengar cerita seram tentang roh yang berkeliaran, legenda urban, dan kepercayaan supernatural yang masih memengaruhi budaya Singapura hari ini.

Pilihan aktivitas terbaik di Singapura
Pilihan aktivitas terbaik di Singapura
Jadi... siapa itu Sophie?
Kami sering ditanya soal ini! Sebenarnya, tidak ada siapa pun di tim kami yang bernama Sophie. Dalam bahasa Yunani, Sophie berarti kebijaksanaan. Kami ingin Seek Sophie menjadi tentang perjalanan yang membantumu mengenal diri sendiri dan dunia lebih dalam—perjalanan yang mengisi hati dan membuatmu merasa lebih terhubung.
Mari berteman!
Dapatkan cerita tentang tempat rahasia dan spot tersembunyi langsung di kotak masukmu.
Bahasa Inggris
USD
Bahasa Inggris
USD
© Seek Sophie 2026PrivasiSyarat
Lisensi Agen Perjalanan TA03435