Keranjang Anda
Keranjang Anda masih kosong.
Total pesanan
$0 USD
Checkout

Mereka Bilang Perempuan Tak Bisa Mendaki Gunung Rinjani. Dia Tetap Melakukannya.

Kenalan dengan Katni, pemandu perempuan pertama di Lombok.

oleh Jia Lin
Terakhir diperbarui: 29 Mei 2026 - 5 menit baca
Mereka Bilang Perempuan Tak Bisa Mendaki Gunung Rinjani. Dia Tetap Melakukannya.

Lombok sering disebut sebagai “sepupu Bali yang lebih santai”, dengan pantai yang lebih tenang dan spot selancar yang tidak terlalu ramai. Tapi Lombok bukan Bali. Tempat ini punya karakter dan budayanya sendiri — dan soal apa yang boleh dilakukan perempuan di sini, perjalanannya masih panjang.

Dari situlah kami pertama kali mendengar tentang Katni. Ia mendobrak semua batas di Lombok saat memutuskan untuk mendaki Gunung Rinjani pada masa ketika hanya laki-laki yang diizinkan melakukannya.

“Terlalu berat untuk anak perempuan”

Gunung Rinjani yang sakral di Lombok

Katni tumbuh besar di sebuah desa di Lombok, tempat Gunung Rinjani dianggap sakral. Bagi masyarakat Sasak, gunung ini adalah segalanya — dan sepanjang yang diingat orang, mendakinya selalu dianggap pekerjaan laki-laki. Menjadi pemandu pendaki adalah pekerjaan laki-laki. Mencari uang sendiri adalah pekerjaan laki-laki. Jalan hidup perempuan sudah digariskan dengan jelas: menikah muda, tinggal di rumah, membesarkan anak. Jangan naik gunung.

Tapi Katni memperhatikan semuanya. Ia melihat para laki-laki di desanya pulang dari pekerjaan sebagai pemandu dengan uang di saku. Ia juga melihat para perempuan tetap di rumah, tanpa penghasilan sendiri, tanpa banyak hak untuk bersuara. Ia muak dengan semua itu.

Saat Katni berusia 15 tahun, ia memberi tahu orang tuanya bahwa ia tetap akan mendaki Gunung Rinjani.

“Orang tua saya bilang, ‘Kamu tidak bisa melakukan itu, itu terlalu berat untuk anak perempuan. Kamu seharusnya tinggal di rumah, melahirkan, dan mengurus anak.’”

Nasihat seperti ini bukan hal yang aneh — setiap orang tua di desa memberi nasihat yang sama. Hingga hari ini, Lombok masih sangat patriarkal. Kawin culik, ketika perempuan muda diambil dari keluarganya dan pada akhirnya dipaksa menikah, masih terjadi di sini.

Meski begitu, dia tetap mendaki.


Ternyata, yang paling berat bukan pendakiannya

Katni mencapai puncak Gunung Rinjani

Orang kadang mengira bagian tersulit dari menjadi yang “pertama” adalah momen itu sendiri. Puncaknya. Tapi bagi Katni, perjuangan yang lebih berat justru datang di setiap hari setelah ia mencapai puncak. Warganya berbalik melawannya.

Kata Katni:

“Orang-orang mulai bertanya pada orang tua saya kenapa saya dibiarkan menjadi ‘perempuan nakal’. Saya takut dengan apa yang mungkin mereka lakukan pada saya.”

Di tempat di mana kawin culik masih terjadi, apa yang ia lakukan bukan sekadar tindakan berani — bagi seorang perempuan muda, ini bisa membawa akibat yang serius.

Meski begitu, dia terus mendaki. Setiap pendakian membuatnya lebih kuat. Lebih yakin. Dan makin sering ia mendaki, makin ia menginginkan apa yang dimiliki para lelaki di sekitarnya: menjadi pemandu bagi pelancong yang naik ke Rinjani, mendapat penghasilan dari sana, dan membangun hidup dari pekerjaan itu.

Dan itulah yang ia lakukan. Ia mulai mengambil pekerjaan sebagai pemandu. Tidak ada contoh yang bisa diikuti, tidak ada pemandu perempuan senior untuk ditanyai, tidak ada seorang pun di Lombok yang pernah melakukan ini sebelumnya. Ia menjalaninya sambil belajar, satu perjalanan demi satu perjalanan.


“Saya tidak sedang mencoba melawan laki-laki. Saya ingin membantu keluarga-keluarga.”

Woman standing on a narrow village lane in front of traditional straw-roof huts, wearing a patterned scarf and dark dress

Penolakan makin keras. Para pria di komunitasnya sendiri mulai mempertanyakannya secara langsung.

Mereka bertanya, "Kenapa kamu mendorong perempuan untuk mandiri? Kamu mau melawan laki-laki?"

Katni punya jawaban yang jelas.

"Tapi saya bukan mau melawan laki-laki. Saya ingin membantu keluarga. Kalau sesuatu terjadi pada laki-laki, dan perempuannya tidak bisa bekerja untuk mencari uang, apa yang akan terjadi?"


Dari yang pertama hingga memimpin 70 perempuan

Group of women in hijabs posing together against a concrete wall of travel posters and photos in a leafy courtyard

Menjadi yang pertama saja tidak cukup. Kalau hanya Katni yang berhasil menembus batas, gadis-gadis lain di desanya tetap tidak akan punya jalan.

Jadi Katni mendirikan Rinjani Women Adventure — satu-satunya perusahaan trekking milik perempuan di gunung itu — dan mulai melatih perempuan dari komunitasnya untuk menjadi pemandu.

Satu jadi sepuluh. Sepuluh jadi 60. Hari ini, Katni telah menciptakan pekerjaan bagi lebih dari 70 perempuan.

Saat tim kami trekking bersama mereka, kami langsung suka. Mereka sabar, berpengetahuan, dan tidak pernah terburu-buru. Pemandu kami, Umi, sangat inisiatif dalam memperkenalkan semuanya. Pemandu kedua dalam trekking yang sama adalah seorang perempuan yang sedang dilatih — orang berikutnya yang akan menyusul.

Perubahan di desa

Friends smiling and posing by parked cars at a roadside stop, with one person wearing a Quiksilver T-shirt

Saat para perempuan mulai membawa uang pulang, perlahan ada yang berubah di desa. Para laki-laki berhenti memandangi mereka. Mereka yang dulu bilang perempuan tidak pantas menjadi pemandu mulai ikut menyemangati. Sebagian dari mereka sekarang bahkan aktif membantu — menghubungkan anak perempuan dan keponakan mereka ke pelatihan Katni, serta memberi tahu laki-laki di desa sekitar bahwa para perempuan di gunung itu melakukan pekerjaan sungguhan, dan melakukannya dengan baik.

Anak-anak perempuan yang dulu mungkin akan didorong ke pernikahan dini sekarang punya pilihan lain. Mereka bisa berlatih dengan Katni. Mereka bisa menghasilkan uang. Mereka bisa menunggu.

Dan para ibu yang dulu tak punya pilihan selain meninggalkan Lombok untuk mencari kerja di luar negeri — meninggalkan keluarga mereka selama bertahun-tahun — sekarang bisa menjadi pemandu dan tetap tinggal di rumah bersama anak-anak mereka.

"Kami membuat perubahan pelan-pelan, karena kami ingin tetap menghormati budaya kami. Ini tidak mudah, tapi kami mulai hidup sebagai perempuan yang bebas."

Sebagai tim yang dipimpin perempuan di Seek Sophie, kisah Katni terasa sangat kuat bagi kami. Sejak kecil (bahkan sampai dewasa), kita terus-menerus diberi tahu tidak bisa. Kita diminta melupakan mimpi kita. Tapi kalau kita percaya pada suara hati kita, kalau kita percaya pada mimpi kita — keajaiban apa yang bisa terjadi? Saat kita percaya bahwa satu orang punya kekuatan untuk membawa perubahan, mungkin itu benar-benar bisa terjadi.


Mendaki dengan Katni

Saat kamu trekking di kaki Gunung Rinjani bersama tim Katni, kamu berjalan bersama para perempuan yang dulunya bahkan tidak seharusnya ada di sana. Setiap langkah dalam perjalananmu langsung mendukung sebuah gerakan yang sedang mengubah kemungkinan hidup bagi anak-anak perempuan di desa ini.

Siap mendaki bersama para pemandu perempuan Rinjani yang luar biasa? Pesan Seek Sophie Rinjani Women Adventure kamu di sini!

Tentang penulis
Aku suka keluar di alam - hiking, melihat satwa liar, dan mengelus semua anjing dan kucing jalanan ❤️

Pertanyaan seputar Pengalaman di Gunung Rinjani

Apa itu Gunung Rinjani?

Gunung Rinjani adalah gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dan salah satu pendakian gunung terindah di Asia Tenggara! Jalurnya cukup menantang, jadi sebaiknya kamu benar-benar mempersiapkan diri sebelum mendaki.

Gunung Rinjani adalah gunung berapi aktif yang terletak di Pulau Lombok, Indonesia. Dengan ketinggian 3.726 meter (12.224 kaki), Rinjani merupakan gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dan destinasi populer untuk trekking dan hiking. Gunung ini dikenal karena pemandangannya yang menakjubkan, termasuk danau kawah Segara Anak, serta flora dan fauna yang unik.

Bagaimana cara mendaki Gunung Rinjani?

Mendaki Gunung Rinjani membutuhkan tingkat kebugaran dan pengalaman tertentu, tetapi tetap memungkinkan jika didampingi pemandu. Rute yang paling populer adalah jalur Senaru, yang biasanya memakan waktu sekitar dua hingga tiga hari untuk diselesaikan. Sepanjang perjalanan, pendaki akan melewati beragam medan, termasuk tanjakan curam, jalur berbatu, dan hutan lebat. Disarankan untuk menyewa pemandu lokal atau bergabung dengan grup tur, karena jalurnya bisa cukup sulit diikuti dan cuaca dapat berubah dengan cepat. Gunung Rinjani juga bisa ditutup untuk pendakian pada waktu-waktu tertentu dalam setahun, misalnya jika ada jalur yang perlu diperbaiki, jadi sebaiknya rencanakan jauh-jauh hari dan pastikan untuk mengecek rutenya terlebih dahulu dengan kami!

Apa yang bisa saya lihat di Gunung Rinjani?

Kami sudah mendaki banyak gunung di Asia Tenggara, dan menurut kami Gunung Rinjani tetap jadi salah satu trek terindah yang ada. Selain terkenal karena tingkat kesulitannya, Rinjani juga punya salah satu pemandangan terbaik di Indonesia. Bahkan kalau kamu hanya sampai bibir kawah dan tidak sampai puncak, pemandangannya saja sudah sangat sepadan.


Puncak Gunung Rinjani menawarkan pemandangan menakjubkan ke lanskap sekitarnya, termasuk Danau Kawah Segara Anak yang berada di ketinggian 2.000 meter (6.562 kaki). Danau ini dikenal dengan warna biru kehijauannya dan dianggap sakral oleh masyarakat Sasak setempat.


Tapi meskipun kamu tidak sampai ke puncak, sebenarnya ada beberapa danau kawah di sepanjang gunung ini, jadi pendakiannya terasa indah dari awal sampai akhir, bukan hanya di puncak saja.


Gunung ini juga punya ekosistem yang unik, dengan beragam spesies tumbuhan dan hewan, termasuk monyet, rusa, dan burung.

Perlu latihan dulu untuk mendaki Gunung Rinjani?

Sebagai gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia, Gunung Rinjani dikenal sebagai trek yang berat, bahkan untuk pendaki yang sudah berpengalaman. Jangan ulangi kesalahan kami — kami naik sampai puncak 3726 m tanpa latihan sama sekali, dan kaki kami nyaris menyerah. Setelah itu kami bahkan jalan pun nggak benar selama seminggu... 😂

Bagian paling berat adalah saat menuju puncak, karena jalurnya sangat curam dan licin. Dan ya, pendakiannya dilakukan dalam gelap, sebelum matahari terbit. Rasanya benar-benar seperti dua langkah maju, satu langkah mundur — dalam gelap gulita! Tapi saat turun, ketika betis sudah pegal sekali, ada bagian serunya juga: kamu bisa lari dan meluncur turun dari puncak.

Kalau kondisi fisikmu cukup baik (rutin kardio 2 jam sekali seminggu), kamu mungkin masih bisa menyelesaikan trek ini tanpa latihan khusus. Tapi akan jauh lebih menyenangkan kalau kamu latihan dulu, jadi kamu bisa menikmati perjalanannya, bukan cuma fokus bertahan hidup! Jadi kalau kamu mau persiapan, kami sarankan mulai 3–6 minggu sebelumnya — dengan kardio dua kali seminggu dan latihan kekuatan 2–3 kali seminggu.

Apa saja rute pendakian yang berbeda di Gunung Rinjani?

Ada dua rute trekking utama — satu menuju puncak (rute Sembalun), dan satu lagi lebih mudah dan hanya sampai bibir kawah (rute Senaru). Keduanya memakan waktu dua hari, tetapi rute bibir kawah Senaru cocok untuk pendaki pemula, sedangkan rute puncak Sembalun lebih cocok untuk pendaki tingkat menengah. Kami sudah mencoba keduanya, dan meski kamu hanya sampai bibir kawah dan tidak sampai puncak, pemandangannya tetap sangat sepadan!


Rute 1: Trek Senaru (bibir kawah - paling mudah tapi tidak ke puncak) - 2H2M

Trek Senaru adalah trek yang lebih mudah dan tidak menuju puncak, melainkan ke bibir kawah yang indah. Trek ini dimulai dari Desa Senaru dan membawa pengunjung melewati hutan yang rimbun serta desa tradisional Sasak. Sorotan utama trek ini adalah bermalam di Bibir Kawah Sembalun, tempat pengunjung bisa menikmati pemandangan panorama yang memukau dari lanskap sekitarnya. Pada hari kedua trek Senaru, pengunjung bisa menikmati matahari terbit yang indah di atas Danau Segara Anak sebelum turun kembali ke Desa Senaru.


Rute 2: Trek Sembalun (pendakian ke puncak) - pilihan 3H2M atau 2H1M.

Trek Sembalun adalah trek yang lebih menantang dan membawamu ke puncak. Alasan pendakian ke puncak terasa menantang adalah karena pasir abu vulkaniknya licin — artinya saat mendaki ke puncak dalam gelap, setiap satu langkah maju yang kamu ambil bisa terasa seperti sedikit melorot kembali. Rute Sembalun akan membawamu ke Bibir Kawah Sembalun untuk bermalam sebelum memulai pendakian puncak yang menantang pada pagi hari ke-2. Setelah sampai di puncak, kamu akan turun kembali sampai ke Sembalun untuk mengakhiri trek.


Kalau kamu pendaki yang sangat bugar dan ingin melihat yang terbaik dari Gunung Rinjani, kamu juga bisa memperpanjang pendakian puncak dengan tambahan perjalanan ke danau. Totalnya jadi 3 hari (bukan 2 hari seperti biasanya), dan setelah mencapai puncak Gunung Rinjani, kamu akan menuju danau yang cantik untuk bermalam.


Rute 3: Rute Torean (rute puncak tersembunyi bak Jurassic Park) - pilihan 3H2M atau 4H3M

Rute ini dibuat setelah gempa bumi beberapa waktu lalu dan merupakan rute yang paling jarang diketahui di Gunung Rinjani, sekaligus yang paling indah. Di rute ini jumlah pendakinya jauh lebih sedikit, dan ini benar-benar rute terindah di Rinjani dengan pemandangan yang terasa seperti langsung keluar dari Jurassic Park. Namun tingkat tantangannya mirip dengan trek Sembalun, jadi kalau punya waktu kami lebih merekomendasikan 4H3M agar kamu punya lebih banyak waktu untuk menikmati pemandangan, dan juga akan terasa lebih ringan jika dibagi dalam 4 hari, bukan 3 hari.

6 Pilihan terbaik Pengalaman di Gunung Rinjani
6 Pilihan terbaik Pengalaman di Gunung Rinjani
Jadi... siapa itu Sophie?
Kami sering ditanya soal ini! Sebenarnya, tidak ada siapa pun di tim kami yang bernama Sophie. Dalam bahasa Yunani, Sophie berarti kebijaksanaan. Kami ingin Seek Sophie menjadi tentang perjalanan yang membantumu mengenal diri sendiri dan dunia lebih dalam—perjalanan yang mengisi hati dan membuatmu merasa lebih terhubung.
Mari berteman!
Dapatkan cerita tentang tempat rahasia dan spot tersembunyi langsung di kotak masukmu.
Bahasa Inggris
USD
Bahasa Inggris
USD
© Seek Sophie 2026PrivasiSyarat
Lisensi Agen Perjalanan TA03435