Mereka mengira dia tidur dengan para tamu. Padahal, dia sedang membangun sesuatu untuk desanya.
Saat Saloma Lisa pertama kali membuka rumah keluarganya untuk orang asing, rumor yang beredar bukan tentang usahanya memberi kembali untuk desanya. Yang dibicarakan justru dengan siapa dia pasti tidur.

“Warga desa melihat orang datang menginap di sini. Dalam budaya kami, itu tidak umum, jadi mereka pikir saya tidur dengan semua orang yang datang ke rumah ini, dan saya punya banyak pacar.”
Itulah sambutan yang Saloma terima saat mengubah rumah ayahnya di Kampung Sadir, Kuching, menjadi sebuah homestay.
Sekarang, orang datang ke sini untuk menginap bersamanya, makan masakan yang dibuat kakaknya, mendaki ke air terjun bersama pemandu lokal, dan mengunjungi sekolah desa. Tapi membuat warga desa memahami apa yang sedang ia bangun butuh waktu jauh lebih lama.
Desa tempat ia dibesarkan

Saloma berasal dari suku Bidayuh, lahir dan besar di Kampung Sadir, sebuah desa sekitar 90 menit dari Kuching. Waktu kecil, dia yang paling suka bertualang: ekstrovert, penasaran dengan orang lain, selalu bertanya mereka pernah ke mana dan melakukan apa. Hal yang sama juga, katanya, paling dia sukai dari menjadi host sekarang: bertemu orang baru.
Seperti banyak orang yang tumbuh besar di suatu tempat, dia dulu tidak melihat desanya sebagai destinasi. Itu hanya rumah: tempat asalnya, bukan tempat yang orang datangi untuk dikunjungi.
Akhirnya dia pindah ke Kuching untuk menempuh Diploma Komunikasi Massa dengan jurusan Hubungan Masyarakat. Tapi dia tetap sering mengajak orang-orang dari kota kembali ke rumah.
Bagaimana ide ini muncul
Dia mengundang teman-temannya ke Kampung Sadir saat Gawai Dayak, atau untuk merayakan Natal di desa, bukan di kota. Awalnya ini memang tidak dimaksudkan sebagai bisnis. Dia hanya ingin menunjukkan dari mana dia berasal. Tapi mereka sangat menyukainya. Banyak temannya terus mengatakan hal yang sama: kamu harus mengubah ini jadi guesthouse!
Di sisi lain, ia pernah pergi ke Sapa, Vietnam, dan menginap di sebuah homestay di sana — jenis tempat menginap di mana kamu tidak benar-benar terasa seperti tamu, melainkan sejenak menjadi bagian dari rumah seseorang. Pengalaman itu membekas kuat baginya.
Jadi pada 2012, ia memutuskan untuk mencobanya. Ia merenovasi rumah ayahnya dan menamainya Saloma Villagestay.
Warga kampung belum yakin

Pada awalnya, gagasan bahwa orang asing akan membayar untuk tidur di rumah keluarga seseorang bukan sesuatu yang dipahami Kampung Sadir. Di bulan-bulan pertamanya, Saloma menghabiskan waktu untuk menjelaskan apa sebenarnya homestay itu. Orang tuanya akhirnya mengerti. Warga kampung perlu waktu lebih lama. Saat ia membawa ide-idenya ke pertemuan kampung, kadang yang diingatkan kepadanya justru usianya yang masih muda.
“Mereka tidak mau menerima ide-ide baru. Ketika orang baru seperti saya datang ke pertemuan kampung dan memberi ide, mereka akan bilang kami masih sangat muda dan tidak tahu apa-apa. Kami harus berusaha keras meyakinkan mereka dan membuktikan bahwa kami bisa melakukannya.”
Ini bukan cuma soal membuat orang paham bisnisnya. Saloma sedang berusaha membuktikan bahwa seseorang yang muda, dari kampung itu sendiri, bisa punya ide yang layak didengar. Dan bahkan sampai sekarang, katanya, bagian itu masih belum jadi lebih mudah.
“Sampai sekarang, saya masih merasa ini sangat sulit. Kadang saya hampir menyerah. Kamu harus sangat kuat. Kalau tidak, kamu tidak akan bisa melakukan ini.”
Pulang ke kampung tidak semudah yang ia bayangkan

Membangun homestay itu bukan satu-satunya bagian yang sulit. Setelah kurang lebih satu dekade tinggal di kota, pindah kembali ke Kampung Sadir berarti melepaskan kehidupan yang sudah ia terbiasa jalani. Enam bulan pertama setelah kembali, menurut pengakuannya sendiri, adalah salah satu masa yang paling berat.
“Pulang ke kampung adalah pengorbanan besar. Kadang saya rindu kota.”
Tapi lalu ia keluar, bertemu anak-anak desa, mengerjakan proyek-proyeknya, dan ia pun merasa tidak lagi merindukan kota. Tampaknya itulah yang selalu menariknya kembali: selalu ada hal lain yang ingin ia lakukan di sini.
Membangunnya, sebagian besar sendirian

Selama tiga tahun pertama, Saloma mengelola homestay ini sendiri bersama keluarganya. Tidak ada staf dan tidak ada warga desa yang dipekerjakan untuk membantu.
Pembangunan fisiknya memakan waktu lebih lama lagi. Yang sekarang menjadi beberapa kamar tamu butuh tujuh tahun untuk selesai, bersamaan dengan pengembangan lain di sekitarnya, termasuk bangunan terbuka bergaya rumah pohon dengan tempat tidur berkelambu dan kamar mandi bersama.
Perlu dibilang, ini bukan tempat menginap sederhana di dalam rumah panjang tradisional Bidayuh. Saloma membangun sesuatu yang lebih personal: rumahnya sendiri, yang perlahan disesuaikan selama bertahun-tahun untuk menyambut tamu, dengan rumah panjang yang masih digunakan dan sekolah desa yang masuk dalam rencana perjalanan hari itu.
Kalau kamu mencari versi paling apa adanya dari kehidupan desa Bidayuh, kamu bisa menemukannya di tempat lain di Sarawak. Yang ditawarkan Saloma adalah sedikit gambaran tentang bagaimana ia dan keluarganya benar-benar hidup, dengan sedikit tambahan kenyamanan untuk tamu yang menginap.
Membuat homestay ini bermanfaat lebih dari sekadar untuk keluarganya sendiri

Sekolah menengah terdekat dari Kampung Sadir berjarak 45 menit. Para siswa tinggal dekat sekolah selama hari kerja dan pulang saat akhir pekan, dan Saloma telah melihat anak-anak muda meninggalkan desa, dan banyak yang tidak kembali.
Jadi ia mulai mencari cara-cara kecil agar homestay ini bisa menciptakan lebih banyak peluang di kampung halaman.
Dia mendorong para perempuan di desa untuk menenun dan membuat kerajinan tangan yang bisa dibeli tamu sebagai oleh-oleh. Para tamu juga membawa buku anak bekas, yang kemudian ditempatkan di perpustakaan kecil di homestay. Saloma mengajari anak-anak desa bahasa Inggris saat mereka butuh bantuan.
“Saya mengajak anak-anak desa datang ke sini untuk membaca, dan saya mengajari mereka kalau ada yang belum mereka pahami.”
Dan saat desa membutuhkan seseorang untuk turun tangan, biasanya dia juga yang melakukannya. Dia jadi penerjemah, pembawa acara, membantu di gereja... apa pun yang dibutuhkan pada saat itu!
Desa yang menghidupi dirinya sendiri

Bahkan makanan di tempat Saloma pun tetap dekat dengan asalnya. Kakaknya yang memasak sebagian besar hidangan, dan kabarnya para tamu sampai menambah tiga kali untuk menu yang sama. Lada berasal dari kebun tetangga. Bahan-bahan lainnya dibeli dari orang-orang di sekitar desa.
Ini ekonomi kecil yang sederhana dan cair, dan itulah yang memang diinginkan Saloma.
“Saya tidak ingin ini hanya menguntungkan saya dan keluarga saya. Saya juga ingin masyarakat ikut merasakan manfaatnya. Kalau orang-orang datang ke sini berarti kita bisa menciptakan lebih banyak peluang untuk desa, sambil tetap menjaga budaya kami, itu sesuatu yang benar-benar saya yakini.”
homestay ini mungkin berawal dari Saloma, tapi dia tidak melihatnya sebagai sesuatu yang hanya menjadi miliknya.
Apa yang benar-benar dialami tamu di sini

Tamu menghabiskan sebagian besar waktunya di sekitar rumah Saloma dan di desa itu sendiri—trekking ke salah satu dari dua air terjun di dekat sana, mengunjungi sekolah desa, belajar mencari bahan makanan liar, atau melihat seseorang menyalakan api dengan cara yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun.
Rasanya bukan seperti pertunjukan yang dibuat untuk pengunjung. Semua ini memang bagian dari kehidupan desa sehari-hari, dan tamu bisa ikut menjadi bagian darinya untuk sementara waktu.
Para pemandunya juga warga lokal, dan masing-masing membawa sentuhan mereka sendiri ke dalam pengalaman ini. Saie pernah mengukir seruling bambu untuk seorang tamu sambil menunggu air mendidih. William, pemandu rimba andalan mereka yang juga pendeta desa, sangat mengenal tumbuhan dan sejarah daerah ini, dan sering kali secara naluriah berhenti di tengah perjalanan untuk mengambil sesuatu dari tanah lalu menunjukkan kepada tamu apa yang sedang mereka lihat.
Ada juga perjalanan ke Semenggoh untuk melihat orangutan, serta kunjungan ke rumah panjang Bidayuh yang asli, sehingga tamu bisa melihat sisi lain dari komunitas ini di luar rumah Saloma.
Habiskan sehari atau dua hari di desa Saloma

Satu malam rasanya nyaris tidak cukup untuk menyerap semuanya — mulai dari bertemu anak-anak sekolah dan mengunjungi desa serta rumah panjang, sampai trekking melewati hutan ke air terjun dan melihat orangutan di Semenggoh. Banyak yang masuk dalam pengalaman ini, dan ritmenya yang lebih santai justru jadi daya tariknya.
Kalau bisa, tambah satu malam lagi supaya kamu bisa benar-benar settle dan menikmatinya. Pesan __placeholder_77__, atau pilih __placeholder_75__ kalau kamu ingin lebih banyak waktu untuk menjelajah tanpa terburu-buru dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Waktu mepet? Ada juga __placeholder_73__ kalau kamu cuma ingin sedikit merasakan hidup di desa.





![Panduan Ringkas Merencanakan Pendakian Gunung Kinabalu [2026]](https://d18sx48tl6nre5.cloudfront.net/webp_xl_4f7a99703162889f64480dfe3c00a2a5.webp)



![Panduan Ringkas Merencanakan Pendakian Gunung Kinabalu [2026]](https://d18sx48tl6nre5.cloudfront.net/webp_md_a10c55f3056c54ea5b7ba426705a0b23.webp)






