Keranjang Anda
Keranjang Anda masih kosong.
Total pesanan
$0 USD
Checkout

Pemandu Bali yang meneruskan Melukat dari neneknya

Nenek Putu, seorang pendeta perempuan, menunjukkan padanya arti hidup dengan tujuan

oleh Jia Lin
Terakhir diperbarui: 10 Sep 2026 - 8 menit baca
Pemandu Bali yang meneruskan Melukat dari neneknya

Saat kecil, Tuan rumah Seek Sophie, Putu menghabiskan hari bulan purnama dan bulan baru dengan mengikuti neneknya, seorang pendeta perempuan Bali, ke pura desa mereka. Ia menyapu halaman, membawa sesajen, dan membantu menyiapkan air suci saat neneknya memimpin doa untuk masyarakat desa.

Putu tak pernah membayangkan ini akan menjadi jalannya sendiri. Dulu ia mengira hidup yang baik terlihat jauh lebih biasa: punya pekerjaan tetap, menerima gaji, dan hidup aman. Jadi ia masuk ke industri perhotelan di Bali, tempat ia menghabiskan lima tahun berikutnya melayani check-in dan check-out wisatawan sambil diam-diam bertanya kenapa ia merasa begitu tidak terpenuhi.

Butuh waktu bertahun-tahun sampai ia sadar bahwa orang yang tampaknya paling mengerti cara menjalani hidup adalah nenek yang sudah ia perhatikan sejak kecil.

Melukat, ritual penyucian air yang kini Putu bagikan kepada para pelancong, bukanlah sesuatu yang ia kenal lewat pariwisata. Ini adalah bagian dari kehidupan spiritual Bali, digunakan untuk membersihkan dan menyeimbangkan diri, dan Putu sudah tumbuh besar mengalaminya bersama keluarganya. Sampai sekarang pun ia masih melakukan Melukat sendiri saat merasa batinnya “berat”, seringnya sekali atau dua kali sebulan.

Hidup neneknya tidak mudah. Tapi ia tetap penuh sukacita.

Putu dan neneknya

Putu tumbuh besar di Siangan, sebuah desa kecil di Gianyar, Bali. Ayahnya meninggal saat ia masih sangat kecil, sehingga ibunya harus menghidupi empat anak. Pekerjaan kadang membuat ibunya pergi dari desa selama berminggu-minggu, jadi Putu menghabiskan sebagian besar masa kecilnya bersama neneknya, yang baginya hampir seperti ibu kedua.

Neneknya bukan orang yang banyak bicara. Putu mengenangnya sebagai sosok yang tenang dan anggun, tapi kehadirannya bisa memenuhi satu ruangan.

“Dia bertahan melewati semua kesulitan dalam hidupnya,” kata Putu. “Dan dia tetap penuh welas asih, tetap penuh kemanusiaan.”

Sebagai seorang pendeta perempuan, neneknya ikut memimpin upacara di pura komunitas. Pada hari-hari suci, Putu berjalan ke sana bersamanya, menghabiskan waktu berjam-jam untuk membersihkan dan menyiapkan pura, menata sesajen, dan membantu menyiapkan tirta sebelum keluarga-keluarga datang untuk bersembahyang.

Bagi Putu, semua itu terasa biasa saja dan memang bagian dari masa tumbuh besarnya. Saat itu ia tidak sadar ada sesuatu yang istimewa dari cara ia dibesarkan.



Putu terus berganti pekerjaan, tapi tetap merasa terjebak

Putu saat bekerja sebagai resepsionis hotel

Saat dewasa, Putu lebih banyak bekerja sebagai resepsionis, berpindah-pindah di antara hotel-hotel di Bali. Ia bukan mengejar karier yang glamor; yang ia cari adalah rasa aman. Pekerjaan berarti gaji setiap bulan, dan bagi Putu, itu berarti ia sedang melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Tapi ia terus merasa ada yang kurang.

“Saya ingin benar-benar tahu apa yang akan terjadi selanjutnya sebelum saya mengambil keputusan-keputusan ini,” katanya. “Itulah kenapa saya menunggu terlalu lama.”

Jadi alih-alih meninggalkan dunia perhotelan, ia pindah hotel. Lalu pindah lagi. Ia menjalani ini selama kira-kira lima tahun, karena berhenti tanpa tahu apa langkah berikutnya membuatnya takut.

“Saya tidak punya keberanian,” katanya.

Setiap kali Putu merasa kehilangan keterhubungan, ia akan kembali ke Melukat—ritual penyucian Bali yang sudah ia jalani bersama neneknya sejak kecil. “Rasanya seperti saya bisa melepaskan semua beban yang saya bawa. Itu selalu membawa saya kembali pada diri saya sendiri.”

Suatu hari, saat melihat neneknya memimpin sebuah upacara, ia memperhatikan wajah neneknya. Wajah itu memancarkan sukacita. Wajah neneknya tampak seperti wajah seseorang yang benar-benar merasa damai. Dan itu membuatnya berhenti sejenak untuk merenung.

Hidup neneknya tidaklah mudah. Ia telah melalui masa-masa sulit dan kehilangan, namun hidup yang ia bangun di sekitar membantu orang lain tampaknya memberinya ketenangan yang tidak bisa Putu temukan dalam rasa aman yang selama ini ia kejar.

Putu mulai bertanya-tanya apakah ia juga bisa melakukan sesuatu yang serupa.

Akhirnya ia berhenti. Lalu Covid datang.

Menjelang akhir 2019, Putu akhirnya meninggalkan pekerjaannya di hotel. Selama beberapa bulan ia tidak bekerja dan kembali tinggal bersama neneknya, masih belum benar-benar yakin apa yang akan ia lakukan.

Akhirnya ia menceritakan kepada neneknya tentang sebuah gagasan yang sudah lama ia pikirkan: bagaimana jika ia mendampingi para pelancong menjalani Melukat, bukan sekadar sebagai satu lagi aktivitas di Bali, melainkan dengan cara yang ia pahami karena tumbuh dekat dengan ritual itu?

“Nek, saya ingin melakukan ini untuk para turis,” katanya kepada neneknya. “Menurut Nenek bagaimana?” Neneknya memberi restu.

Putu mulai menawarkan pengalaman Melukat menjelang akhir 2019. Para pelancong pun mulai datang.

Lalu Covid membuat pariwisata Bali berhenti total. Pekerjaan itu pun nyaris terhenti selama hampir dua tahun.

Tapi pada akhirnya Putu mulai lagi, dan kali ini pekerjaan itu mulai tumbuh bersama keluarganya. Sekarang ia sering memandu bersama sepupu-sepupu yang tumbuh besar bersamanya di kompleks keluarga yang sama. Ibunya juga ikut terlibat dalam upacara-upacara ini.

Bagi Putu, ini jadi lebih dari sekadar akhirnya menemukan pekerjaan yang ia nikmati. Ritual yang dulu diperkenalkan neneknya kepadanya saat masih kecil kini diteruskan oleh generasi perempuan lain dalam keluarganya.

Dari mana pun kita berasal, kita semua membawa hal yang sama

Putu tidak menjanjikan bahwa Melukat akan mengubah hidup seseorang.

Yang ia lihat, berulang kali, adalah orang-orang datang dengan hal-hal yang sudah lama mereka bawa: duka, hubungan yang renggang, penyesalan, atau sekadar perasaan bahwa ada sesuatu yang terasa tertahan.

Seorang pelancong menghubungi Putu sebelum memesan karena ia pernah melihat ritual penyucian secara online dan ingin tahu apakah ia akan diminta berteriak di dalam air.

Putu bilang tidak. Bagi Putu, pelepasan tidak harus terlihat dramatis. Bisa berupa air mata, doa, tarikan napas yang tenang, atau sekadar beberapa menit dalam diam.

Salah satu momen yang paling ia ingat melibatkan seorang ibu dan anak laki-lakinya yang telah terpisah secara fisik selama bertahun-tahun. Mereka pergi ke Bali bersama dan datang untuk Melukat. Di salah satu kolam penyucian, sang ibu mulai menangis.

Putu tidak berusaha menjadikan momen itu sebagai kisah rapi tentang apa yang dilakukan air itu. Yang membekas baginya adalah melihat sebuah emosi di antara dua orang yang tampaknya tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.

“Itu sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” katanya.

Bertahun-tahun mendampingi orang melewati momen-momen seperti itu juga mengubah cara Putu memandang orang asing. Orang datang dari negara, agama, dan budaya yang berbeda, tapi di balik itu semua ia terus melihat hal yang sama: ingin memaafkan seseorang, ingin dicintai, sulit melepaskan, berusaha merasa menjadi diri sendiri lagi.

Saya tidak merasa seperti sedang pergi bekerja. Rasanya seperti sedang menjalani tujuan hidup saya.

Kini Putu seperti kembali ke titik awal, dan kembali bersekolah

Putu sekarang belajar hukum

Ada sisi lain dalam hidup Putu yang tidak sepenuhnya cocok dengan bayangan tentang seorang pemandu spiritual Bali: ia sedang belajar hukum.

Pendidikan tinggi adalah sesuatu yang sudah ia inginkan selama bertahun-tahun. Dalam keluarga tempat ia dibesarkan, kuliah bukan jalan yang umum, dan Putu mulai bekerja di usia yang relatif muda. Sekarang, saat hidupnya lebih stabil, akhirnya ia kembali belajar.

“Saya benar-benar merasa sudah cukup banyak memberi kepada orang lain, dan saya jarang memberi cukup untuk diri saya sendiri,” katanya. Pendidikan adalah sesuatu, tambahnya, yang “tidak bisa diambil siapa pun dari saya.”

Ketertarikannya pada hukum datang dari dorongan yang sama yang dulu membawanya ke pekerjaan neneknya. Putu ingin memahami bagaimana ia bisa berbuat lebih banyak untuk orang-orang, hewan, dan lingkungan di sekitarnya.

Ia tinggal di tengah hamparan sawah dan sering berjalan melewatinya pada sore hari bersama anjingnya, Lala. Ia ingat Bali 25 atau 30 tahun lalu jauh lebih hijau; sekarang ia melihat semakin banyak lahan dibangun dan plastik berakhir di sawah.

Dia masih belum tahu pada akhirnya akan melakukan apa dengan gelar hukumnya.

Ketidakpastian itu mungkin akan sangat menakutkan bagi Putu yang dulu menghabiskan lima tahun tanpa mau berhenti sampai tahu persis apa yang akan datang berikutnya.

Sekarang dia sudah nyaman mengambil langkah pertama meski sisa jalannya belum tergambar sepenuhnya.

Rasakan Melukat bersama Putu

Melukat bersama Putu adalah ritual yang sangat bermakna dan sakral

Kalau kamu ingin memahami Melukat, bukan sekadar mengunjungi pura penyucian, kami akan memilih

Pengalaman ini juga sangat berbeda dibanding datang sendiri ke salah satu tempat penyucian paling ramai di Bali. Saat kami pergi bersama Putu, hanya ada segelintir orang lain di kolam. Sebelum masuk ke air, dia menjelaskan tujuan ritual ini, memandu meditasi singkat, dan menunjukkan cara membuat persembahan canang sari, termasuk makna dari bunga-bunga dengan warna yang berbeda.

Ada banyak detail kecil yang indah di sepanjang pengalaman ini. Kamu berjalan turun menuju air sambil membawa semua yang dibutuhkan, duduk sejenak ditemani suara air terjun sebelum memulai, lalu melewati pancuran satu per satu. Saat kami berkunjung, ibu Putu membantu memimpin ritual di dalam air sementara Putu mendampingi dan membimbing. Ibunya hanya bisa sedikit bahasa Inggris, tapi begitu upacara dimulai, itu terasa tidak terlalu penting.

Salah satu dari kami sudah sering ke Bali, dan setelahnya bilang bahwa ini pertama kalinya ia merasa benar-benar tenggelam dalam budaya Bali.

Dia tidak keluar lalu mengaku mengalami perubahan spiritual yang besar. Dia hanya merasa segar dan lega, dan berharap dulu sempat melakukannya di salah satu perjalanan sebelumnya. Mungkin memang begitu cara terbaik untuk datang.

Kamu tidak perlu datang dengan harapan bahwa Melukat akan mengubah hidupmu. Datanglah untuk memahami tradisi yang sudah hidup bersama Putu sejak kecil, dan mengenal keluarga yang cara hidupnya pada akhirnya membantu Putu memahami apa yang ia inginkan untuk hidupnya sendiri.


👇 Pesan pengalaman Seek Sophie Melukat kamu bersama Putu di sini

Tentang penulis
Aku suka keluar di alam - hiking, melihat satwa liar, dan mengelus semua anjing dan kucing jalanan ❤️

Pertanyaan seputar Bali

Apakah Bali mahal untuk dikunjungi?

Bali bisa jadi ramah di kantong atau mewah sesuai keinginan kamu. Kamu bisa menikmati pulau ini dengan anggaran sekitar Rp450.000–Rp750.000 per hari dengan menginap di losmen, makan di warung makan lokal, dan menggunakan skuter untuk berkeliling.

Di ujung lain, Bali punya resort mewah dan vila pribadi yang harganya bisa lebih dari Rp7.500.000 per malam.

Kalau mau pengalaman yang sedang-sedang saja, biasanya perlu budget sekitar Rp1.500.000–Rp2.250.000 per hari.


Apakah $1.000 cukup untuk seminggu di Bali?

Iya, $1.000 sudah cukup untuk seminggu di Bali! Berikut gambaran kasar anggaran:

  • Akomodasi: $20–$100 per malam per orang 
  • Makanan: $5–$20 per kali makan
  • Transportasi: $5–$15 per hari
  • Aktivitas: $10–$50 per orang/hari

Kalau hindari resort mewah, kamu bisa tetap hemat dan tetap menikmati pengalaman seru.


Berapa hari yang saya butuhkan di Bali?

Kami sarankan minimal 8 hari untuk benar-benar merasakan Bali, apalagi kalau ini perjalanan pertama kamu.

Kalau punya 8 hari, bisa habiskan 3 hari di Selatan di Nusa Penida dan bersantai di pantai, lalu 5 hari di Ubud dan utara, di mana kamu bisa jelajahi area wisata di Ubud, ikut kelas memasak/seni, mendaki Gunung Batur/Agung, dan melakukan perjalanan petualangan ke Munduk.

Kalau waktu lebih lama (misalnya 2 minggu), kamu bisa menjelajah di luar Bali untuk mendaki gunung berapi Ijen (api biru!), atau naik kapal ke Lombok dan Gili Islands yang dekat. Kalau ke Lombok, butuh setidaknya seminggu lagi.

Kapan waktu terbaik untuk berkunjung ke Bali?

Waktu terbaik untuk berkunjung ke Bali adalah saat musim kemarau, dari April hingga Oktober, saat cuaca cerah dan cocok untuk kegiatan di luar ruangan.

Musim hujan (November–Maret) masih waktu yang bagus untuk berkunjung jika kamu ingin menghindari keramaian dan tidak keberatan dengan hujan deras sesekali.

Kalau kamu suka berselancar, Juli dan Agustus adalah waktu terbaik untuk mendapatkan ombak terbaik di pantai barat Bali.

Apa yang membuat Bali begitu terkenal?

Tak rahasia lagi bahwa Bali adalah salah satu tempat paling populer di dunia. Saat orang memikirkan Bali, mereka biasanya teringat tentang retreat yoga, Eat, Pray, Love, atau bar pantai yang glamor, vila yang indah, dan berselancar. Dan Bali tentu saja bisa menjadi semuanya itu. Perjalanan sangat mudah, kebanyakan orang berbicara bahasa Inggris, dan ada sesuatu untuk semua orang—baik kamu mencari petualangan, hiking, dan alam, atau sekadar bersantai di bar pantai yang bisa ada di mana saja di dunia. 

Tapi ada banyak hal lagi tentang Bali selain rumah pohon terkenal di Instagram dan ayunan wisata. Bali punya hati yang besar. Ada pengrajin yang mempraktikkan kerajinan yang telah diwariskan selama beberapa generasi, rasa hormat mendalam terhadap alam, dan konservasionis yang bekerja keras melindungi tanah dan lautnya. Dan meskipun pariwisata telah membentuk pulau ini, sisi spiritual Bali tetap sangat nyata. Itulah Bali yang kami cintai—dan yang kami harap bisa dialami oleh para wisatawan.


Pilihan aktivitas terbaik di Bali
Pilihan aktivitas terbaik di Bali
Jadi... siapa itu Sophie?
Kami sering ditanya soal ini! Sebenarnya, tidak ada siapa pun di tim kami yang bernama Sophie. Dalam bahasa Yunani, Sophie berarti kebijaksanaan. Kami ingin Seek Sophie menjadi tentang perjalanan yang membantumu mengenal diri sendiri dan dunia lebih dalam—perjalanan yang mengisi hati dan membuatmu merasa lebih terhubung.
Mari berteman!
Dapatkan cerita tentang tempat rahasia dan spot tersembunyi langsung di kotak masukmu.
Bahasa Inggris
USD
Bahasa Inggris
USD
© Seek Sophie 2026PrivasiSyarat
Lisensi Agen Perjalanan TA03435