Keranjang Anda
Keranjang Anda masih kosong.
Total pesanan
$0 USD
Checkout

Uang Justin Tinggal $670. Dia Pertaruhkan Semuanya untuk Bali.

Kenalan dengan Justin. Dia punya misi untuk menunjukkan Bali yang sesungguhnya kepada para pelancong — Bali tempat dia dibesarkan.

oleh Jia Lin
Terakhir diperbarui: 10 Sep 2026 - 4 menit baca
Uang Justin Tinggal $670. Dia Pertaruhkan Semuanya untuk Bali.

Bali adalah salah satu pulau yang paling banyak dikunjungi di dunia, jadi mudah sekali berakhir dengan itinerary yang sama seperti semua orang. Banyak pemandu biasanya tetap membawa orang ke tempat-tempat yang memang ingin dilihat kebanyakan pelancong, seperti ayunan Bali yang ramai, dengan antrean panjang hanya untuk berfoto.

Tapi tidak dengan Justin. Alih-alih membawa pelancong lewat jalur Mt Batur yang biasa dan penuh pendaki, dia mengajak mereka lewat rute rahasia. Dia tidak sedang mencoba menunjukkan Bali yang sama yang sudah dilihat semua orang. Dia membagikan Bali yang benar-benar dia kenal dan cintai.

Justin tumbuh dalam keluarga berpenghasilan menengah ke bawah, tenggelam dalam utang

Saat tumbuh besar di Jakarta, Justin melihat orang tuanya bekerja tanpa henti hanya untuk bertahan hidup. Kecanduan narkoba dari seorang kerabat dekat mendorong keluarganya masuk semakin dalam ke utang, dan ada masa-masa ketika mereka bahkan harus menggadaikan barang-barang mereka untuk mencukupi kebutuhan.

Rumah tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah. Semua orang sibuk bertahan hidup — kerja, kerja, dan terus kerja. Hampir tidak ada waktu untuk duduk makan bersama.

“Kadang saya merasa dunia dan hidup ini tidak adil untuk keluarga kami.”

Tapi setiap beberapa tahun, keluarganya akan menabung secukupnya untuk pergi ke tempat dekat untuk liburan singkat.

Dan selama beberapa hari yang berharga itu, semuanya berubah. Stres menghilang. Pertengkaran mereda. Mereka hanya menjadi sebuah keluarga — satu-satunya saat mereka benar-benar punya waktu berkualitas bersama.

Perjalanan-perjalanan itu mengubah cara dia memandang wisata.

Dia sadar bahwa kenangan terbaik bukan datang dari sekadar mencentang daftar tempat wisata terkenal. Kenangan itu lahir dari ngobrol dengan warga lokal, belajar tentang tradisi mereka, dan melihat bagaimana mereka hidup. Bagi Justin, perjalanan adalah penyembuhan.

Bertahun-tahun kemudian, meski sudah melewati banyak hal, orang tuanya berhasil membiayainya sampai kuliah, tempat ia belajar seni dan desain dengan jurusan animasi 3D.

"Orang tua saya bekerja sangat keras supaya saya bisa mendapat pendidikan yang baik. Jadi saya terus berusaha melakukan hal yang benar. Saya memastikan setiap hari ada kemajuan."

Tapi dia sadar bahwa dia tak bisa membayangkan menghabiskan sisa hidupnya di belakang komputer. Jadi setiap akhir pekan, alih-alih beristirahat, Justin keliling Bali. Dia mencari tempat-tempat tersembunyi, belajar bahasa Bali dari teman-temannya, membaca tentang sejarah Bali, dan bertemu pemandu lokal serta warga desa di mana pun dia pergi.

Semakin banyak dia menjelajahi Bali, dia menyadari sesuatu. Kebanyakan tur membawa wisatawan ke tempat-tempat yang persis sama.

"Kenapa semua tur menunjukkan tempat yang sama? Saya ingin menunjukkan Bali yang sesungguhnya kepada orang-orang — Bali yang dicintai warga lokal, Bali yang saya kenal."

Jadi dia memberanikan diri mengambil langkah besar.

Setelah lulus, dan hanya dengan 12 juta rupiah (US$670) di rekeningnya, Justin memulai perusahaan turnya sendiri. Orang tuanya menentang. Mereka khawatir dan berharap dia kembali ke Jakarta untuk melanjutkan usaha keluarga. Mereka bilang kalau dia tetap bersikeras, mereka tidak akan membantunya.

Tapi Justin benar-benar ingin memberi idenya kesempatan yang sungguh-sungguh. Visinya sederhana: menciptakan jenis perjalanan yang selama ini dia harap ada di Bali — lebih pelan, lebih personal, dan berakar pada komunitas lokal, bukan tempat wisata yang ramai turis.

Di Gunung Batur, saat ratusan pendaki naik lewat jalur yang sama setiap pagi, Justin bekerja sama dengan sebuah keluarga lokal untuk membuka kembali jalur desa lama yang sempat ditinggalkan. Sekarang, hanya sedikit pelancong yang menempuh rute rahasia ini, sekaligus memberi tambahan penghasilan bagi keluarga yang ikut merawatnya.

Di Nusa Penida, alih-alih mengajak pengunjung buru-buru keliling pulau dalam satu hari, Justin mengajak mereka menikmati perjalanan yang lebih pelan selama dua hari — bertemu petani rumput laut, mengunjungi pura gua tersembunyi, lalu menutup hari di spot matahari terbenam rahasianya.

Pelan-pelan, semakin banyak orang mendengar tentangnya. Dalam waktu enam bulan, Justin sudah menghasilkan cukup uang untuk membeli mobilnya sendiri. Suatu hari, ibunya — yang diam-diam menyimpan kata sandi rekening banknya dan rutin mengeceknya — menelepon. "Kamu jual narkoba, ya? Kok rekeningmu bisa naik terus begini tiap hari?" Dia cuma tertawa.

"Travel memberi saya hidup saya kembali. Saya harap saya bisa mendorong lebih banyak warga lokal untuk lebih kreatif, membantu mereka mendapatkan penghidupan yang lebih baik, dan membagikan tempat-tempat tersembunyi yang mereka banggakan."

Datang dan lihat Bali yang sesungguhnya lewat mata Justin.

Kebanyakan orang yang pergi ke Bali hanya melihat versi yang penuh turis — beach club, kafe, dan spot IG yang ramai. Mereka tidak melihat versi Bali yang ingin Justin tunjukkan — Bali yang sebenarnya, Bali tempat dia tumbuh besar, tempat-tempat yang benar-benar dia suka kunjungi saat waktu senggang, bukan cuma yang sedang populer di media sosial.

Justin dan timnya menjalankan beberapa pengalaman pilihan Seek Sophie yang mencerminkan itu — mulai dari jalur rahasia menuju pendakian Mt Batur yang lebih sepi, sunrise jeep yang beda dari biasanya, petualangan Nusa Penida dua hari yang lebih santai, sampai tur sehari privat yang disesuaikan dengan seperti apa Bali yang benar-benar ingin kamu rasakan.

Pesan petualangan Bali bersama Justin dan tim hebatnya di sini! kamu

Tentang penulis
Aku suka keluar di alam - hiking, melihat satwa liar, dan mengelus semua anjing dan kucing jalanan ❤️

Pertanyaan seputar Bali

Apakah Bali mahal untuk dikunjungi?

Bali bisa jadi ramah di kantong atau mewah sesuai keinginan kamu. Kamu bisa menikmati pulau ini dengan anggaran sekitar Rp450.000–Rp750.000 per hari dengan menginap di losmen, makan di warung makan lokal, dan menggunakan skuter untuk berkeliling.

Di ujung lain, Bali punya resort mewah dan vila pribadi yang harganya bisa lebih dari Rp7.500.000 per malam.

Kalau mau pengalaman yang sedang-sedang saja, biasanya perlu budget sekitar Rp1.500.000–Rp2.250.000 per hari.


Apakah $1.000 cukup untuk seminggu di Bali?

Iya, $1.000 sudah cukup untuk seminggu di Bali! Berikut gambaran kasar anggaran:

  • Akomodasi: $20–$100 per malam per orang 
  • Makanan: $5–$20 per kali makan
  • Transportasi: $5–$15 per hari
  • Aktivitas: $10–$50 per orang/hari

Kalau hindari resort mewah, kamu bisa tetap hemat dan tetap menikmati pengalaman seru.


Berapa hari yang saya butuhkan di Bali?

Kami sarankan minimal 8 hari untuk benar-benar merasakan Bali, apalagi kalau ini perjalanan pertama kamu.

Kalau punya 8 hari, bisa habiskan 3 hari di Selatan di Nusa Penida dan bersantai di pantai, lalu 5 hari di Ubud dan utara, di mana kamu bisa jelajahi area wisata di Ubud, ikut kelas memasak/seni, mendaki Gunung Batur/Agung, dan melakukan perjalanan petualangan ke Munduk.

Kalau waktu lebih lama (misalnya 2 minggu), kamu bisa menjelajah di luar Bali untuk mendaki gunung berapi Ijen (api biru!), atau naik kapal ke Lombok dan Gili Islands yang dekat. Kalau ke Lombok, butuh setidaknya seminggu lagi.

Kapan waktu terbaik untuk berkunjung ke Bali?

Waktu terbaik untuk berkunjung ke Bali adalah saat musim kemarau, dari April hingga Oktober, saat cuaca cerah dan cocok untuk kegiatan di luar ruangan.

Musim hujan (November–Maret) masih waktu yang bagus untuk berkunjung jika kamu ingin menghindari keramaian dan tidak keberatan dengan hujan deras sesekali.

Kalau kamu suka berselancar, Juli dan Agustus adalah waktu terbaik untuk mendapatkan ombak terbaik di pantai barat Bali.

Apa yang membuat Bali begitu terkenal?

Tak rahasia lagi bahwa Bali adalah salah satu tempat paling populer di dunia. Saat orang memikirkan Bali, mereka biasanya teringat tentang retreat yoga, Eat, Pray, Love, atau bar pantai yang glamor, vila yang indah, dan berselancar. Dan Bali tentu saja bisa menjadi semuanya itu. Perjalanan sangat mudah, kebanyakan orang berbicara bahasa Inggris, dan ada sesuatu untuk semua orang—baik kamu mencari petualangan, hiking, dan alam, atau sekadar bersantai di bar pantai yang bisa ada di mana saja di dunia. 

Tapi ada banyak hal lagi tentang Bali selain rumah pohon terkenal di Instagram dan ayunan wisata. Bali punya hati yang besar. Ada pengrajin yang mempraktikkan kerajinan yang telah diwariskan selama beberapa generasi, rasa hormat mendalam terhadap alam, dan konservasionis yang bekerja keras melindungi tanah dan lautnya. Dan meskipun pariwisata telah membentuk pulau ini, sisi spiritual Bali tetap sangat nyata. Itulah Bali yang kami cintai—dan yang kami harap bisa dialami oleh para wisatawan.


Pilihan aktivitas terbaik di Bali
Pilihan aktivitas terbaik di Bali
Jadi... siapa itu Sophie?
Kami sering ditanya soal ini! Sebenarnya, tidak ada siapa pun di tim kami yang bernama Sophie. Dalam bahasa Yunani, Sophie berarti kebijaksanaan. Kami ingin Seek Sophie menjadi tentang perjalanan yang membantumu mengenal diri sendiri dan dunia lebih dalam—perjalanan yang mengisi hati dan membuatmu merasa lebih terhubung.
Mari berteman!
Dapatkan cerita tentang tempat rahasia dan spot tersembunyi langsung di kotak masukmu.
Bahasa Inggris
USD
Bahasa Inggris
USD
© Seek Sophie 2026PrivasiSyarat
Lisensi Agen Perjalanan TA03435